Senin, 19 Desember 2011

Santun



Tensimeter digital saya sering mengundang  perhatian para mahasiswa keperawatan yang sedang berpraktek di ruang HD. Rupanya sebagian besar dari mereka belum pernah melihat tensimeter digital semacam itu. Kadang mereka berkerubung sekedar untuk melihat bagaimana memakainya atau bertanya berapa harganya. Dengan senyum ramah, saya pun menjawab rasa penasaran mereka. Beberapa dari mereka biasanya akan minta izin untuk mencoba mengukur tensi mereka sendiri dengan alat itu. Saya pun tidak keberatan.
Tapi dalam pertemuan berikutnya, saya sering kesal dengan ulah mereka. Sering sekali mereka mengambil tensimeter saya tanpa meminta izin. Setelah mengambil, mereka yang berjumlah belasan orang itu, mulai antri mencoba tensimeter saya. Selesai mencoba, tanpa sedikit pun merasa bersalah, mereka mengembalikan tensimeter saya begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih.
Sebenarnya saya tidak pernah keberatan jika mereka ingin mencoba alat yang bagi mereka masih asing itu. Saya hanya menyesalkan sikap mereka yang sering tidak santun. Apalagi mereka adalah orang-orang yang masuk hitungan berpendidikan tinggi.
Saya agak khawatir. Jika sekarang mereka mulai belajar mengambil barang orang lain tanpa izin, bagaimana nanti jika mereka menjadi orang-orang yang punya kekuasaan? Saya hanya berharap mudah-mudahan kelak mereka tidak sampai menjadi koruptor!

Jumat, 16 Desember 2011

Payung di Mata Saya dan Sahabat

Musim hujan kadang mengingatkan saya pada seorang sahabat saya. Dia dan saya punya sudut pandang yang berbeda soal payung. Bagi saya, payung tak lebih dari alat perlindungan diri di musim hujan agar badan tidak jadi basah. Karenanya, jika hendak bepergian saat sedang turun hujan, saya pasti mencari payung.
Tapi sahabat saya lain. Dia menyebut diri laki-laki sejati. Makanya, dia lebih memilih basah kuyup diguyur hujan daripada harus memakai payung. Kenapa? Karena baginya, payung hanya pantas dipakai oleh kaum wanita. Jika ada laki-laki yang memakai payung, meskipun sedang turun hujan, laki-laki itu pantas disebut banci. Singkatnya, payung itu menurunkan harga diri seorang laki-laki sejati.
Dalam beberapa kesempatan ketika kami harus keluar rumah untuk mencari makanan dan kebetulan sedang turun hujan, dia memilih berlari-lari menerobos hujan menuju warung sedangkan saya dengan santai berjalan sambil memakai payung. Dalam hati saya hanya bergumam, Hmm..jangan-jangan di matanya, saya ini tak lebih dari seorang banci gara-gara saya memakai payung. Bagaimana menurut Anda?

Kamis, 15 Desember 2011

Kecelakaan Konyol yang Memalukan

Malu! Itulah reaksi yang paling saya ingat ketika tanpa sengaja saya menabrak pintu kaca sebuah minimarket. Kejadian konyol yang benar-benar memalukan. Kejadiannya sekitar jam 7 malam, 15 Maret 2011.  Ketika itu saya bermaksud membeli beberapa perlengkapan mandi. Saya sedikit buru-buru karena waktu itu ada tanda-tanda akan turun hujan.
Setelah memarkir motor, dengan langkah cepat layaknya orang yang buru-buru, saya bergegas mau masuk ke minimarket. Saya benar-benar tidak memperhatikan kalau pintu kaca itu sedang dalam posisi tertutup. Dan “akhh…”, saya menabrak pintu kaca itu sangat keras. Beruntung pintu kaca itu tidak pecah. Tapi semua mata yang ada di minimarket itu langsung mengarah ke saya.
Bibir saya sakit sekali. Saya langsung meraba jangan-jangan bibir saya berdarah, tapi syukurlah ternyata tidak ada darah.
Menyadari kalau banyak orang yang melihat saya, dan sepertinya mereka berusaha menahan tawa, saya langsung mengubah mimik muka saya seolah saya baik-baik saja. Tepatnya, saya berpura-pura merasa tidak sakit. Padahal makin lama bibir saya terasa makin tebal dan perih. Dan untuk menyamarkan rasa sakit dan rasa malu saya waktu itu, saya cepat-cepat mengambil barang yang saya inginkan lalu saya bayar di kasir.
Seolah memahami rasa malu yang saya derita, orang-orang yang ada di situ tak satu pun yang memberi komentar. Buru-buru saya kembali meninggalkan minimarket itu dengan rasa malu yang tidak terkira.
Sepanjang perjalanan ke rumah, saya mulai dibayangi  bagaimana orang-orang di minimarket tadi sedang menertawakan saya. Terbayang bagaimana ekspresi muka mereka membicarakan kekonyolan saya tadi. Saya jadi tambah malu karena salah satu dari mereka, seorang ibu, meskipun tidak akrab, tetapi kenal sama saya karena rumahnya tidak jauh dari rumah saya. Dia pasti pulang ke rumah lalu menceritakan kejadian tadi. Dan terbayang mereka sekeluarga menertawakan saya. Benar-benar memalukan.
Sesampai di rumah, saya langsung mengambil cermin dan memeriksa bibir saya. Ternyata bibir atas saya memar dan mulai bengkak. Bagian dalamnya terlihat sedikit berdarah, mungkin karena kena gigi.
Saya kemudian mengompresnya dengan air hangat, berharap bengkaknya segera berkurang. Namun yang terjadi sebaliknya. Bibir saya malah semakin tebal. Bahkan malam itu saya tidak bisa mengunyah makanan. Namun karena belum makan malam, terpaksa nasinya langsung saya telan saja tanpa dikunyah. Saya tidak bisa makan banyak malam itu. Apa boleh buat.
Keesokan paginya, bibir saya terlihat makin bengkak. Jelek banget! Saya malu sendiri melihatnya. Saya tidak berani keluar rumah. Untuk membeli Thrombophob Gel—obat anti bengkak— saja, pagi itu saya terpaksa memakai masker. Harga obatnya lima puluh ribu.
Bengkaknya berlangsung beberapa hari. Dan sepanjang itu pula, saya selalu memakai masker setiap kali keluar rumah. Tak lupa, untuk mengatasi bengkaknya, setiap hari saya kompres dengan air hangat dan saya beri Thrombophob Gel secukupnya.
Beruntung, tidak cukup satu minggu, bengkaknya sudah hilang. Rupanya Thrombophob Gel cukup manjur. Tapi meski begitu, bibir saya tetap kelihatan memar. Tak apalah, pikir saya. Yang penting bibir saya tak lagi bengkak seperti moncong babi. Sebelumnya saya sempat khawatir kalau-kalau bibir saya akan selamanya bengkak seperti itu. Bisa-bisa saya dijuluki “Pangeran Babi”,hehehe..
Puji Tuhan, sekarang bibir saya sudah sembuh. Meskipun sekarang memang terlihat sedikit kurang simetris karena bekas lukanya meninggalkan sedikit tonjolan kecil, tapi lagi-lagi “tak apalah” pikir saya. Ini sudah kemajuan yang pesat. Pemulihan yang pantas disyukuri. Terima kasih Tuhan atas bibir yang Kau berikan ini.
Anda tahu? Ternyata rasa malu itu bisa lebih menyakitkan daripada rasa sakit yang sebenarnya (pada tubuh fisik kita). Pesan saya, hati-hatilah memasuki ruangan yang berdinding kaca. Jangan sampai Anda menabrak kacanya. Karena ternyata saya bukan korban pertama. Hahaha…
Berikut beberapa foto seputar kecelakaan konyol itu, dari yang terparah sampai yang mulai membaik.







Sabtu, 03 Desember 2011

Teman Lama dan Foto Terbaruku

Seorang teman lama, baru-baru ini mengirim sms dan bertanya sedikit heran, “Yed, kemarin aku liat foto-fotomu di Fb. Tapi aku bingung. Itu yang baru, yang mana ya? Soalnya ada yang agak gemuk tapi kok ada yang kurus banget ya?” Sambil tersenyum saya jawab, “Yang keliatan paling kurus, itu yang terbaru kawan”.
“Ah masa sih?”, katanya.
Begitulah. Lagi-lagi ada yang tak percaya. Sebagaimana saya sendiri kadang tak percaya.

Sabtu, 26 November 2011

Selamat Ulang Tahun, Tom!

Kemarin adalah ulang tahun saya. Saya genap berusia 26 tahun. Banyak teman yang memberi ucapan selamat. Ada yang langsung menelepon, ada juga yang hanya mengirim pesan lewat sms atau situs pertemanan, facebook. Ada yang memberi ucapan agak panjang, ada juga yang sangat singkat dengan menulis “HBD” saja.  Tapi terlepas dari panjang-pendeknya pesan-pesan itu, intinya sama. Mereka memberi saya sesuatu. Sesuatu itu adalah kebahagiaan.
Saya bahagia tidak saja karena umur saya masih dipanjangkan, tapi terutama karena saya tahu bahwa ada sekian banyak orang yang sayang sama saya. Ada sekian banyak orang yang peduli sama saya. Ada sekian banyak orang yang berempati sama saya. Ada sekian banyak orang yang mendukung saya. Ada sekian banyak orang yang mendoakan saya. Ada sekian banyak orang yang mengharapkan saya menjadi baik. Mereka itu tak lain adalah keluarga saya, teman-teman saya, sahabat-sahabat saya, atau sekedar kenalan-kenalan saya. Mereka memenuhi saya dengan perhatian dan kasih sayang.
Maka, betapa pun kemarin tidak ada perayaan yang semarak, betapa pun kemarin tidak ada acara tiup lilin dan potong kue, dan betapa pun kemarin saya harus berulangtahun di ruang hemodialisa, saya tetapLah merasa bahagia. Bahagia karena aku dicintai.
Terima kasih Indo’ dan Ambe’. Terima kasih keluargaku semua. Terima kasih sahabat-sahabatku. Terima kasih kekasih hatiku.
Di atas semuanya itu, terima kasih, puji syukur, dan segala hormat dan kemuliaan hanya bagi Dia, Tuhan Yang Maha Kasih.
Selamat ulang tahun, Tom.

Kamis, 24 November 2011

Dokter Malas

Setahu saya, di ruang HD telah ditugaskan seorang dokter jaga. Dan setiap dua atau tiga minggu, dokter itu akan diganti oleh dokter lain. Tapi saya sering heran, kenapa dokter-dokter itu jarang sekali terlihat berjaga (stand by) di ruang HD. Kalaupun ada dokter yang datang, kebanyakan hanya datang untuk menandatangani rekam medis pasien. Setelah selesai, dia langsung pulang. Sangat jarang, bahkan hampir tidak ada dari dokter jaga tersebut yang memeriksa atau sekedar melihat-lihat kondisi pasien yang sedang menjalani HD.
Menjadi pertanyaan saya, apa iya dokter  jaga itu hanya ditugaskan untuk datang tanda tangan?
Tidak adanya dokter jaga yang benar-benar berjaga di ruang HD, kadang menimbulkan masalah bagi pasien. Pasien yang sedang kehabisan obat, misalnya, terpaksa tertunda untuk mendapatkan resep hingga dokter tersebut masuk. Begitu pula jika ada pasien yang tiba-tiba menggigil atau tiba-tiba tidak enak perasaannya, tidak ada dokter yang siap menolong. Kalaupun kemudian perawat menelepon dokter, belum tentu dokter itu bisa segera datang.
Saya mencoba memahami. Dokter-dokter itu pasti sangat sibuk. Cuma menurut saya, mestinya, sesibuk apapun mereka, tugas jaga di ruang HD itu tidak boleh ditinggalkan begitu saja.
Mereka juga tidak perlulah berjaga seharian penuh. Bahkan tidak masalah kalau mereka tidak bisa hadir setiap hari. Tapi saya kecewa ketika mereka kebetulan datang, dan hanya datang untuk menandatangani berkas pasien, lalu pulang. Saya kecewa karena kebanyakan dokter itu tidak pernah benar-benar memeriksa keadaan pasien atau sekedar berkomunikasi dengan pasien dan keluarganya. Karena kecewa, saya terpaksa menyebut mereka (maaf)  “dokter malas!”.

Rabu, 23 November 2011

Inilah Untungnya Jadi Orang Kurus

Badan kurus punya tantangan tersendiri. Bagi sebagian orang, keadaan ini sering membuat minder karena dianggap tidak good looking. Dan, bahkan, akan terdengar menyakitkan bila ada yang mengolok dengan sebutan “si kurus”, “kurang gizi”, atau “tengkorak hidup”. Ada juga yang mengejek dengan berkata,  “awas lho ketiup angin!”.
Namun begitu, ternyata badan kurus itu ada juga untungnya. Keuntungan itu terutama saya sadari setelah saya menjalani cuci darah dimana saya harus sering-sering berhadapan dengan jarum suntik, jarum infus dan tusukan jarum-jarum cuci darah.
Ditusuk jarum itu menyakitkan. Apalagi jarum infus dan jarum cuci darah yang ukurannya lebih besar. Sakit dan perih. Celakanya, menemukan pembuluh yang tepat itu ternyata tak selalu mudah. Dokter dan perawat sering kesulitan dan terpaksa melakukan tusukan beberapa kali untuk mendapatkan tusukan pada pembuluh darah yang tepat.
Dan inilah untungnya jadi orang kurus. Dokter dan perawat tidak perlu terlalu repot menemukan pembuluh darah yang diinginkan. Karena pada orang kurus seperti saya, pembuluh darahnya mudah terlihat dan dengan merabah sebentar saja, dokter atau perawat dapat segera menentukan lokasi tusukan yang tepat. Biasanya sekali tusukan langsung berhasil. Dengan begitu, setidaknya saya tidak perlu merasakan sakit lebih lama.
Hal itu berbeda pada orang yang berbadan gemuk. Tumpukan lemak yang tebal menyebabkan pembuluh darah mereka tertutup sehingga sulit ditemukan. Akibatnya mereka terpaksa harus menahan rasa sakit dan perih lebih lama gara-gara ditusuk berulang kali sampai pembuluh darahnya ditemukan.
Tak jarang saya melihat ada pasien yang sampai menangis, mengerang, bahkan berteriak-teriak  karena tak tahan ditusuk berkali-kali. Maka bercermin dari semua itu, saya sadar! Ternyata ada untungnya jadi orang kurus.

Selasa, 22 November 2011

Saya Jauh Lebih Beruntung

Andai waktu diputar kembali hingga sebelum lima tahun yang lalu, saya yakin tak seorang pun dapat menduga kalau hidup saya akan menjadi seperti sekarang ini. Ketika SD dan SMP saya selalu tampil sebagai bintang kelas. Ketika SMA, meskipun tidak tampil sebagai bintang kelas, tetapi saya selalu menonjol setidaknya untuk mata pelajaran Agama dan Bahasa Indonesia. Selalu saja ada yang mengatakan kalau masa depan saya akan sukses dan cemerlang.
Tapi kemudian apa yang terjadi? Setamat kuliah saya didiagnosis mengalami penyakit ginjal kronis dan disarankan segera menjalani cuci darah. Dan singkat cerita, saya akhirnya rutin menjalani cuci darah tiga kali seminggu. Siapa yang pernah menduga hal ini? Pada titik ini, mungkin saya pantas disebut malang.
Tapi  baiklah. Saya tak akan menyebut diri ‘malang’ di sini. Saya akan belajar bersyukur.
Seorang teman sesama pasien cuci darah pernah berkata, “Kamu masih beruntung Yed. Meskipun kamu sakit tapi kamu punya keluarga dan teman-teman yang perhatian sama kamu. Kamu bahkan punya pacar yang tak hanya cantik, tapi juga setia (hehehe…). Tidak seperti aku! Orangtuaku sudah tidak ada. Dan kamu tahu..teman-teman bahkan pacarku sendiri pergi meninggalkan aku”.
Ya, ternyata saya memang jauh lebih beruntung dibandingkan sekian banyak orang yang lain. Keberuntungan yang sering tidak saya sadari tatkala saya larut meratapi penyakit saya. Keberuntungan yang jarang saya syukuri karena menganggap diri sungguh bernasib malang. Toh, kenyataannya banyak orang lain yang lebih susah hidupnya, yang sebenarnya lebih pantas mengeluh, tetapi justru mereka lebih sabar, lebih tegar dan lebih ikhlas menjalani hidup ini.
Ya, sungguh banyak yang pantas saya syukuri. Setidaknya, saya masih bisa bernafas lega di saat ada pasien yang sedang kesulitan bernafas karena sesak. Saya masih bisa berjalan lincah di saat ada pasien yang terpaksa diangkat karena sudah tidak kuat jalan. Saya masih bisa makan sendiri di saat ada pasien yang  disuapi. Saya masih bisa mandi sendiri. Saya masih bisa jalan-jalan di mall. Saya masih bisa pergi sendiri ke gereja. Saya masih bisa internetan. Bahkan saya masih bisa membersihkan kamar dan menyapu rumah setiap pagi.
Dan yang terpenting, seperti kata seorang teman di atas, saya beruntung karena selalu dikelilingi oleh orang-orang terkasih yang setia dan penuh perhatian. Di atas semua itu, saya beruntung karena Tuhan memberi saya kesempatan menikmati berlimpah cinta-Nya di dunia ini. Semoga Dia mengampuni segala dosa dan ke-kurangbersyukur-an saya atas rahmat hidup yang telah saya terima.
“Jadi, bersyukurlah Yed! J

Kamis, 17 November 2011

Memeluk Penyakit ala Gede Prama

Kadang saya merasa sedih dengan keadaan sakit seperti ini. Bagaimana tidak, saya sekarang tidak lagi bebas kemana-mana karena harus rutin cuci darah. Saya tidak lagi bebas memakan makanan yang saya mau karena harus mengatur asupan makanan. Saya tidak lagi bebas melakukan pekerjaan yang agak berat karena saya gampang capek. Singkatnya, aktivitas saya menjadi begitu terbatas. Tinggal di rumah tanpa ngapa-ngapain setiap hari, serasa tinggal di pengasingan yang membosankan.

Rupanya, menjalani cuci darah selama 4 tahun belum sepenuhnya mampu membentuk saya menjadi pribadi yang sabar dan ikhlas. Saya masih sering mengeluh. Saya masih sering sedih. Saya masih sering menyesali keadaan. Mental dan iman saya masih mudah rapuh.

Pada suatu kesempatan, setelah membaca beberapa tulisan Gede Prama di sebuah blog, saya meninggalkan pertanyaan buat beliau di kolom komentar. Singkatnya, saya mohon nasehat dan bimbingan beliau bagaimana agar saya bisa berdamai dengan penyakit saya dan bagaimana agar saya bisa bersikap lebih tulus dalam menerima keadaan saya saat ini.

Dengan lembut dan penuh empati, beliau membalas pesan saya. Beliau menulis:

Yed, saya sangat berempati dg sakit Anda. Di umur semuda Anda, Anda sdh dibebani penyakit seberat itu. Bedanya dg pendekatan Barat yg membuang segala hal yg berbau negatif (penyakit, kesedihan, penderitaan dan sejenis), dlm pendekatan kesembuhan ala Timur, kesembuhan lebih mungkin terjadi kalau kita memandang dan memperlakukan kehidupan secara holistik. Sederhananya, serupa siang dan malam, mirip cuaca terang dan mendung, keduanya senantiasa ada secara berdampingan, bukan ada sebagai dua hal yg bermusuhan. Ini yg disebut holistik. Belajar dr sini, belajarlah memeluk penyakit Anda, selembut Anda memeluk kesehatan, belajar menyongsong kematian sebagaimana Anda menyongsong kelahiran dulunya. Sebagaimana bunga hari ini yg akan menjadi sampah beberapa hari kemudian, demikian juga dg tubuh kita.

Logika sederhananya, saat penyakit dipeluk, kematian disongsong dikira hidup kita tambah menderita. Pengalaman banyak orang bercerita sebaliknya. Siapa saja yg memeluk penyakitnya (baca: pandang virus penyakit sebagai Ibu yg pernah merawat Anda, sekarang giliran Anda membayar hutang kebaikannya) kemudian merasakan rasa lebih ringan, enteng, bebas. kematian juga serupa, semakin ditakuti semakin berbahaya. Ibarat berjumpa ular di lantai 3, bila seseorang melompat ketakutan, ia mati bukan karena ular, tapi mati kerena ketakutannya yg berlebihan. Berbekalkan ini, Anda boleh melaksanakan meditasi sederhana: “Saat menarik nafas berguman ke dalam, saya menarik nafas bersama rasa sakit. Saat menghembuskan nafas, saya sadar kalau saya sedang sakit”. Intinya dua, saat menarik nafas belajar ‘merawat’ rasa sakit seperti seorang Ibu merawat bayi tunggalnya. Saat mengehembuskan nafas, sadari dan awasi rasa sakit jangan sampai menimbulkan efek berbahaya sebagaimana anak kecil yg melompat ke sana ke mari. Selamat mencoba. Tks

Rabu, 16 November 2011

Maut Itu Misteri Tuhan

Saya semakin yakin bahwa kematian seseorang adalah semata-mata misteri Tuhan. Tak ada yang dapat memastikan kapan, dimana dan bagaimana hal itu terjadi.
Hal itulah yang dialami oleh tetangga saya hari ini. Pagi hari dia berangkat kerja dalam kondisi sehat dan segar. Tapi siapa sangka, sore harinya dia pulang ke rumah dalam keadaan sebagai mayat. Dia meninggal setelah terjatuh dari gedung dimana dia bekerja.
Kematian memang menjadi topik yang menakutkan bahkan mengerikan bagi kebanyakan orang. Membicarakannya saja orang enggan.
Jujur, saya pun sering takut dengan bayang-bayang kematian. Apalagi dengan penyakit yang saya alami saat ini, rasanya pintu kubur semakin dekat saja.
Tapi kemudian saya merenung. Adakah gunanya saya mengkhawatirkan kematian itu? Toh dipikirkan atau tidak dipikirkan, maut itu pasti datang. Dan apa gunanya menerka-nerka saatnya kapan? Dokter saja tidak dapat memastikan berapa umur seseorang.
Dari beberapa buku yang saya baca, saya mulai menyadari bahwa ketakutan, kekhawatiran, atau kesedihan justru akan memperburuk kondisi saya. Sebaliknya saya mulai mengerti bahwa keikhlasan, rasa syukur, cinta kasih, dan doa yang sungguh-sungguh akan berdampak positif bagi kondisi fisik, psikis, dan rohani saya.
Maka daripada saya larut dalam perasaan sedih dan ketakutan pada bayang-bayang kematian, saya berusaha meyakinkan diri saya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahwa pasti ada hal indah di balik sakit ini. Bahwa selalu ada hal-hal positif yang pantas disyukuri.
Dan yang terpenting saya meyakinkan diri saya bahwa di dalam Tuhan, segala yang baik pasti terjadi. Karenanya, saya tidak boleh kehilangan pengharapan. Saya tidak boleh putus asa. Sebaliknya saya harus meyakini bahwa mujizat Tuhan mampu memulihkan kesehatan saya. Saya harus semangat!

Minggu, 16 Oktober 2011

Sesuatu Tentangmu


Ingin kutuliskan sesuatu tentangmu
Sesuatu yang indah…
Sesuatu yang indah…
Ya, sesuatu yang indah
Tapi apa? Tiba-tiba saja aku kehilangan kata-kata

Hanya sebaris ini yang  bisa kutulis:
Aku sayang kamu!

Sabtu, 15 Oktober 2011

Nah, itu baru benar!

            Kepulangan saya HD setiap Jumat siang bertepatan dengan saat menjelang sholat Jumat. Di jalan yang saya lalui terlihat banyak orang dengan antusias menuju masjid. Ada yang jalan kaki, ada pula yang naik kendaraan. Yang menarik perhatian saya adalah mereka yang berangkat ke masjid menggunakan sepeda motor. Dengan pakaian rapi khas orang mau sholat, pada umumnya mereka tidak memakai helm.
            Saya heran! Dalam hati saya bertanya-tanya. Apakah memang ada toleransi tidak memakai helm bagi orang yang berangkat ke masjid untuk sholat Jumat? Jika tidak, mengapa pemandangan yang serupa selalu terjadi setiap Jumat siang? Sepertinya tidak ada tindakan tegas dari petugas lalu lintas, bahkan cenderung membiarkannya.
            Namun bisa jadi hal ini kembali kepada kesadaran hukum masing-masing orang. Bagi yang kesadaran hukumnya tinggi, tentulah akan mengendarai sepeda motor menggunakan helm sesuai ketentuan yang berlaku. Tetapi bagi yang kesadaran hukumnya rendah, akan cenderung melanggar dengan berusaha berdalih dan membuat pembenaran bagi dirinya sendiri. Seolah-olah peraturan lalu-lintas tidak mengikat bagi mereka yang hendak beribadah.
            Tapi ada pemandangan berbeda pada perjalana pulang Jumat kemarin. Ini jarang-jarang terjadi. Tumben! Di sebuah perempatan lampu merah, polisi memberhentikan dan memeriksa beberapa orang yang kelihatannya mau sholat Jumat tapi tidak memakai helm. Dalam hati saya berkata, “Itu baru benar!”.

Selasa, 27 September 2011

Sabtu, 17 September 2011

Belajar Dari Penderitaan Lazarus


Selasa, 13 September 2011 saya mendapat kunjungan doa dari gereja. Mereka yang datang ada 3 orang, seorang bapak dan 2 orang ibu. Sebelumnya saya tidak menduga akan mendapat kunjungan doa malam itu.
Sebelum berdoa, Bapak itu menyampaikan sedikit permenungan singkat disertai nasehat-nasehat yang menguatkan. Saya terkesan ketika dia menceritakan kisah Lazarus. Lazarus adalah seorang tokoh yang diceritakan kitab Injil.
Dalam cerita itu, Lazarus digambarkan sebagai seorang pengemis yang hina papa. Badannya penuh dengan borok. Rupanya dia menderita suatu penyakit kulit yang parah. Selain itu, sepertinya dia tidak bisa berjalan karena dikatakan bahwa dia hanya bisa berbaring di dekat pintu rumah orang kaya. Dia begitu tak berdaya sampai-sampai anjing saja bisa datang menjilati boroknya. Untuk menghilangkan laparnya, dia memakan sisa-sisa makanan dari meja makan orang kaya itu.
Demikianlah Lazarus menderita sepanjang hidupnya hingga dia meninggal. Namun meskipun dia menderita sepanjang hidupnya, Lazarus tidak diceritakan mengeluh atau menyampaikan keberatan kepada Allah. Ini bisa berarti bahwa Lazarus menjalani semua penderitaannya yang berat itu dengan ikhlas dan sabar. Dia tidak meninggalkan Allah. Dia setia pada imannya.
Dan lihatlah apa yang terjadi saat Lazarus dan orang kaya itu meninggal. Lazarus hidup bahagia dalam pangkuan Abraham, sedangkan orang kaya itu menderita sengsara di alam maut.
---------------
Dari Lazarus kita bisa belajar bahwa seberat apa pun penderitaan yang kita alami, jangan sekali-sekali berpaling dari Allah. Tetaplah setia pada-Nya. Percayakan semua derita dan pergumulan hidup kita pada penyelenggaraan Allah. Yakinlah bahwa apa yang kita alami di dunia ini hanyalah sementara. Setidaknya maut akan mengakhirinya. Dan jika kita setia di jalan Tuhan, Tuhan pasti akan memberikan kehidupan baru yang abadi dan bahagia di surga.
---------------
Bapak tadi mengakhiri permenungan singkatnya dengan pesan: tetaplah sabar dan jalani hidup ini dengan ikhlas. Jadikan masa sakit ini sebagai kesempatan untuk makin dekat dengan Sang Pencipta. Rajinlah berdoa dan membaca kitab suci. Semoga Allah Yang Maha Kasih mengampuni dosa-dosamu dan menganugerahi kamu kesembuhan sejati. Dan di atas semuanya itu, biarlah hanya kehendak-Nya yang terjadi.

Selasa, 09 Agustus 2011

Mengapa Kau Ajari Aku Mencinta


Mengapa kau ajari aku mencinta
Mengapa kau ajari aku merindu

Mengapa pula aku ini
Harus mencinta dan merindumu

Jumat, 15 Juli 2011

Telanjur Tumbuh


Ketika perasaan ini baru berupa benih, aku membiarkannya begitu saja
Kupikir benih perasaan itu takkan bertahan lama lalu mati digilas waktu
Tapi ternyata aku salah!
Tanpa kusadari pembiaran itu justru membuatnya tumbuh, tumbuh dan tumbuh
Aku kaget sendiri saat menemukan perasaan itu sudah tumbuh sedemikian besar
Sudah terlambat untuk mengingkari kehadirannya
Sudah terlambat untuk menyembunyikan apalagi mematikannya
Dia sudah telanjur besar untuk bertahan bahkan melawan
Tapi….apakah lalu perasaan itu harus terus kujaga dan kurawat?
Bagaimana aku harus memenuhi kebutuhannya?
Mampukah aku menghidupinya?
Bagaimana bila dia tahu bahwa sesungguhnya aku sedang tak berdaya?
Aku takut dia terluka
Ah…. andai perasaan ini tak pernah kubiarkan tumbuh…

Kamis, 14 Juli 2011

Mungkinkah Aku Telah Jatuh Cinta Padamu?

Kadang tak dapat kupahami kenapa hidupku sebegitu hampa tanpa kehadiranmu
Indah pelangi dan gemerlap gemintang tak mampu melepasku dari rasa rindu padamu

Ya mungkin kau tak pernah sadar bahwa kehadiranmu tempo hari telah meninggalkan jejak yang dalam di hatiku
Dan aku…aku telanjur membingkai jejakmu itu dengan jalinan rasa yang kupunya

Oh mungkinkah aku telah jatuh cinta padamu?

Aku jadi malu

Rabu, 06 Juli 2011

Mempertanyakan Kehendak Tuhan




Dalam kesenyapan subuh tadi aku bertanya kepada Tuhan
Tuhan sampai kapan penyakit ginjal ini harus aku tanggung?
Sungguh kah aku harus menjalani cuci darah seumur hidup?
Apa sebenarnya kehendak-Mu Tuhan?
Oh….



Aku menunggu lama…
Tapi tak jua kudengar Tuhan menjawab



Aku kembali merenung
Ah…
Mungkin tak sepatutnya aku mempertanyakan kehendak Tuhan

Senin, 04 Juli 2011

Menangislah! Karena Menangis Itu Menyehatkan


            Pernahkah Anda merasa sangat sedih  dan ingin menangis, tetapi terpaksa menahan agar air mata Anda tidak keluar hanya karena malu dikatakan cengeng? Jika pernah atau bahkan sering, sepertinya Anda harus berhenti untuk merasa malu. Menangislah saja! Tak peduli Anda wanita ataupun pria. Jika Anda malu menangis di depan umum, mungkin Anda bisa masuk ke kamar dan menangis sampai puas di sana.
            Sebab ternyata menangis diperlukan untuk melepaskan stress. Saat menangis, hormon endorphin di dalam darah akan dilepaskan dan hormon ini yang berfungsi untuk meningkatkan mood dan mengurangi rasa sakit.
            Menurut Dr William Frey, pakar biokimia dan direktur Dry Eyes and Tears Research Center Minnesota, menangis dapat membuat seseorang merasa lebih baik karena air mata yang keluar berfungsi menghapus ketegangan syaraf pada tubuh, yang salah satu penyebabnya adalah stres. Dan keluarnya air mata inilah yang bisa menawarkan racun stres tersebut.
            Kolumnis asosiasi kesehatan Judy Foreman dalam artikelnya “Sob Story” mengungkapkan bahwa air mata emosional atau akibat pedih sama-sama mengandung mangan (Mg) tiga puluh kali lebih banyak dibandingkan yang terdapat di dalam darah. Ini menunjukkan bahwa air mata bisa berfungsi membersihkan tubuh dari racun.

Sabtu, 02 Juli 2011

Surat Seorang Sahabat

            Sekitar tiga tahun lalu, seorang sahabat cukup sering mengirimi saya buku-buku motivasi. Harapannya, dengan buku-buku itu saya semakin tegar, sabar, dan mampu melihat sisi positif dari sakit yang saya alami.
            Hari ini, kembali kubaca salah satu buku itu. Dan ketika beberapa halaman terlewati, secarik suratnya kutemukan lagi masih terselip rapi di sana. Surat itu ditulis tangan sendiri oleh sahabat tersebut. Kubaca lagi surat itu. Dia menulis:

Hai Yedi…
Pa kabar?
Harus +hepi & positif ya J
Semoga buku ini bisa jadi teman buatmu… memperluas wawasanmu… & buat kamu lebih optimis.
Oia, ada yang pengen aku share…
Kalo aku jadi Yedi, mungkin ada yang sangat aku syukuri..
Mungkin ada yang bilang, waktu tinggal sebentar lagi.
Nah justru disitu, mungkin aku akan terpacu untuk berbuat kebaikan sebanyak2nya & sesering yang aku bisa…
Aku pengen tiap detik jadi berharga…
dan sebenarnya, tiap manusia, baik ia sakit atau tidak… dia tetap harus hidup layaknya akan kembali pada-Nya esok hari..
Karena tiap manusia memiliki takdir yang sama, bagian yang sama untuk pulang pada-Nya…
dan bukankah kita semua ingin kembali pada-Nya dengan baik… dengan melihat senyum-Nya?
…..
He2.. semoga +semangat ya…
Smoga selalu dianugerahi kebahagiaan, ketenangan, dan keikhlasan dalam hidup…
…..
Ok deh Yed… baik2 ya…
Maaf kalo ada yang ga berkenan.
Cuma ini yang bisa aku lakuin…
Semoga bermanfaat buatmu…

Aku J

Jumat, 01 Juli 2011

Apa yang Terjadi Saat Kita Berdoa?


            Ada yang mengatakan bahwa doa mampu mengubah segala sesuatu. Ini tidak salah, namun ini juga tidak sepenuhnya benar. Bagaimana pun Allah bukanlah “orang suruhan” kita yang siap mengikuti segala keinginan kita.
            Allah bekerja berdasarkan kebijaksanaanNya yang besar dan sesuai dengan ketetapan hukum-hukumNya. Ini termasuk hukum alam, fisiologi, psikologi, dan teologi. Namun ini tidak berarti bahwa Allah tidak bisa mengubah hukum-hukum jagad raya untuk menanggapi doa kita. Adakalanya, Dia memang melakukannya. Namun galibnya, Allah beroperasi di tengah hukum-hukum universalNya.
             Ya doa mungkin tidak selalu mengubah keadaan. Tetapi melalui doa kita sering diubah saat berhubungan dengan keadaan. Apakah peristiwa eksternal diubah atau tidak, doa selalu mengubah kita. Doa mengubah hati kita untuk memandang segala sesuatu dalam kerangka rencana Allah. Jika seseorang diubah, sebagai akibat dari doa, maka kondisi sekelilingnya akan tampak berbeda pula. Semuanya ada dalam rencana Allah yang teratur.
            Melalui doa, banyak hal baik terjadi dalam kehidupan kita. Beberapa hal bisa kita sebutkan sebagai berikut:

Kamis, 23 Juni 2011

Harapanmu, Ibu!

Ibu…
Aku membayangkan bagaimana harapanmu
ketika mengandung dan melahirkan aku
bagaimana harapanmu ketika membesarkan aku
bagaimana harapanmu ketika menyekolahkan aku
bagaimana harapanmu ketika aku lulus dan makin dewasa

Ibu…
Semua harapanmu itu tampak jelas dalam pikiranku

Aku sedih…
Air mataku jatuh bila mengingatnya
Karena hingga saat ini harapan itu belum bisa kupenuhi

Oh Tuhan…
Pandanglah aku dengan kemurahan hatiMu
Demi cintaMu dan cintaku pada ibuku
Berilah aku kesempatan membuat harapan itu terwujud
Berilah aku kesempatan melihat Ibuku tersenyum
Terima kasih ya Tuhan

Rabu, 22 Juni 2011

Bila Manusia Kekurangan Cinta

            Alam raya tempat kita hidup ini sesungguh adalah alam raya yang berkecukupan bahkan berkelimpahan. Tidak ada sumber daya, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia, yang kurang. Tuhan yang Mahasempurna itu tidak mungkin membuat perhitungan yang keliru sehingga ciptaannya menjadi tidak sempurna.
            Apa yang kita sebut sebagai kekurangan sesungguhnya hanyalah ketidakseimbangan jumlah atau porsi. Ada  yang punya banyak dan ada yang punya sedikit. Yang punya banyak kita sebut kaya, sedangkan yang punya sedikit kita sebut miskin.
            Lalu mengapa di alam raya yang berkelimpahan ini sebagian manusia hidup kekurangan dan menderita? Penyebabnya hanya satu: manusia kekurangan cinta kasih.Cinta kasih manusia-lah yang kurang, bukan sumber daya.
            Cinta kasih yang kurang itu membuat manusia tidak mampu merasakan penderitaan sesamanya. Cinta kasih yang kurang itu membuat manusia tidak peduli dan hanya mementingkan dirinya sendiri. Cinta kasih yang kurang itu membuat manusia enggan untuk membagikan kelebihan yang ada padanya.

Senin, 20 Juni 2011

Apa 'iya' sakit harus disyukuri?


            “Seharusnya orang itu bisa bersyukur kalau dirinya sakit. Itu artinya dia masih diberi kesempatan untuk bertobat sebelum maut menjemputnya.” Kata-kata itu terucap oleh seorang teman, sesama pasien HD, dalam  obrolan kami, suatu siang.
            Sekilas kata-kata itu terdengar hanya sebagai sebuah kata-kata penghiburan untuk menguatkan pasien HD yang lain. Tapi sebenarnya kata-kata itu mengandung makna yang lebih dalam. Kata-kata itu menyatakan kebenaran tentang bagaimana seharusnya kita memandang sakit atau penderitaan.
            Saya kagum pada teman yang telah mengucapkan kata-kata itu. Dia tidak larut untuk menyesali atau meratapi sakitnya. Tapi sebaliknya dia mampu keluar dari kesedihan dan ketakutan pada bayang-bayang kematian. Bahkan dia mampu melihat kebaikan dalam derita hidupnya lalu bangkit  bersyukur dengan hati yang tegar.
            Ya, sakit bukan sesuatu yang harus ditangisi sepanjang hari. Sakit tak boleh merampas semua kebahagiaan dan harapan kita. Cobalah tersenyum. Cobalah optimis.

Minggu, 19 Juni 2011

Mereka yang Penuh Cinta


            Kehadiran para keluarga pasien di ruang HD ini sering membuatku begitu terharu. Perhatian dan kasih sayang mereka yang besar rasanya tak sedikit pun surut meskipun telah berlalu sekian tahun. Mereka tetap setia mendampingi dan merawat anggota keluarganya yang kini menjadi pasien HD.
            Di antara mereka, ada istri yang merawat suaminya, ada suami yang merawat istrinya, ada orangtua yang merawat anaknya, ada anak yang merawat orangtuanya, ada kakak yang merawat adiknya, ada adik yang merawat kakaknya, ada saudara yang merawat saudaranya, dan ada berbagai hubungan kekeluargaan yang lain.
---------------------------
            Mendampingi dan merawat pasien HD memang punya tantangan tersendiri. Dibutuhkan kesabaran ekstra. Bayangkan setiap mau HD, dua kali atau tiga kali seminggu, sebagian pasien harus ditemani ke RS. Dan di RS, sering masih banyak hal yang harus dilakukan. Mulai dari menyuapi, memijat, mengipasi, membangunkan lalu membaringkan kembali, mengantar keluar-masuk kamar mandi, mengambil obat ke apotek, mengambil darah ke PMI, dan berbagai kebutuhan lain.
            Tak ada kata bosan meskipun rutinitas yang sama itu telah mereka lakukan selama bertahun-tahun. ‘Waktu’ tak mampu memudarkan cinta mereka yang tulus. Segala usaha terbaik tetap mereka lakukan dengan sabar dan tanpa mengeluh.

Sabtu, 18 Juni 2011

Tangan Kiri yang Aneh



            Tangan kiri saya, kini sering jadi pusat perhatian di tempat umum (macam artis aja,hehehe). Karena itu, setiap keluar rumah saya selalu bawa jaket untuk menutupinya, terutama kalau sedang di angkutan umum. Pasalnya di tangan kiri saya itu terdapat pembesaran pembuluh darah yang menonjol keluar dan terlihat seperti bengkak. Tidak enak kalau dilihat-lihat orang.
            Kalau kebetulan ada yang melihat, biasanya orang langsung mengernyitkan dahi lalu dengan heran bertanya, “Mas, tangannya kenapa tu?”. Maka saya akan sedikit berbohong dan menjawab, “Oh ini bekas operasi. Kebetulan ada sedikit masalah dengan pembuluh darah di tangan.” Kemudian saya berusaha mengalihkan perhatian supaya dia tak lagi bertanya. Karena kalau saya jawab jujur, saya tak ingin suasana jadi bersedih-sedihan gara-gara kasihan pada saya.
            Ya, banyak orang, yang bertanya keheranan itu, tak pernah tahu bahwa tangan kiri saya yang terlihat bengkak itu adalah tempat memasang selang cuci darah. Sebenarnya bukan tangan yang bengkak, tapi itu adalah pembuluh darah yang membesar lalu menonjol keluar.
            Pada pasien yang sudah rutin cuci darah, memang sengaja dibuatkan saluran khusus di lengan untuk mempermudah pemasangan selang cuci darah. Kalau salurana ini belum ada, pemasangan selang cuci darah akan dilakukan tepat di lipatan paha. Tak hanya sulit, tapi pemasangan selang cuci darah di lipatan paha, dengan jarum yang cukup besar itu, membuat pasien sangat kesakitan dan tersiksa. Apalagi kalau terpaksa dilakukan berkali-kali karena pembuluhnya sulit ditemukan.

Rabu, 15 Juni 2011

Tensimeter

            Salah satu barang yang saat ini tidak boleh jauh-jauh dari saya adalah tensimeter. Tensimeter digunakan untuk mengukur tensi alias tekanan darah. Bentuk, jenis, tipe, harga dan mereknya bermacam-macam. Ada yang manual, ada yang digital. Ada yang dipakai di lengan, ada yang dipakai di pergelangan tangan. Ada yang tingkat keakuratannya tinggi, ada yang tingkat keakuratannya rendah. Ada yang harganya ratusan ribu, ada yang harganya jutaan.
            Kenapa tensimeter tidak boleh jauh-jauh dari saya? Karena saya mengalami tekanan darah tinggi atau hipertensi. Diduga hipertensi inilah yang menyebabkan kerusakan ginjal saya. Pertama kali diketahui saat saya periksa ke dokter sekitar bulan September 2007.
            Sejak kapan tensimeter tidak boleh jauh-jauh dari saya? Sejak saya menjalani hemodialisa rutin. Karena sejak itu tensi saya menjadi tidak stabil dan kadang sangat tinggi. Umumnya berada pada kisaran 150/90 mmHg – 210/110 mmHg.
            Tapi ada sebuah kejadian yang membuat saya semakin akrab dengan tensimeter dan semakin tidak bisa berpisah jauh dengannya. Macam pujaan hati aja dia itu,hehehe… Ceritanya begini…


            Pernah suatu waktu saya tidak mengukur tensi saya selama beberapa hari. Pada saat yang sama saya juga mengabaikan minum obat antihipertensi. Malam harinya tiba-tiba perasaan saya tidak enak. Tak lama kemudian saya batuk darah, lalu nafas sesak, dan jantung berdetak sangat cepat dan kencang. Rupanya tensi saya saat itu sangat tinggi. Saya perkirakan di atas 300mmHg karena saat diukur, tensimeter selalu menunjukkan hasil error. Padahal range pengukuran tensimeter saya adalah 1-299 mmHg. Saya ingat keluarga saya sangat panik waktu itu. Buru-buru saya dilarikan ke rumah sehat.
            Kejadian di malam itu membuat saya cukup trauma. Saya tidak ingin kejadian itu terulang lagi gara-gara keteledoran saya. Makanya setiap perasaan saya agak kurang enak, saya selalu berpikir mungkin tensi saya sedang tinggi. Dan buru-buru saya akan segera mengambil tensimeter dan mengukur tensi saya. Kalau benar tensi saya tinggi, itu tandanya saya harus segera minum tambahan obat antihipertensi. Kenapa saya bilang “tambahan”, karena sebenarnya saya sudah rutin minum obat antihipertensi setiap pagi dan sore. Tapi dosisnya akan saya tambah kalau tiba-tiba tensi saya melonjak naik.
            Ohya, tentang tensimeter itu sendiri, di rumah saya punya dua. Dua-duanya digital dan dioperasikan secara otomatis. Yang satu dipakai di lengan, dan satunya lagi dipakai di pergelangan tangan. Biasanya saya pakai bergantian. Cara pakainya sangat mudah. Tinggal direkatkan ke lengan atau pergelangan tangan lalu tekan tombol start. Hasil pengukuran langsung tampil di layar. Sangat gampang dan praktis sehingga saya bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan orang lain.
            Kenapa saya punya dua? Sebenarnya dulu saya cuma punya satu. Yang pertama saya punya adalah yang dipakai di lengan. Tensimeter yang itu dibelikan oleh seorang sahabat. Tapi karena makin sering ada tetangga yang juga datang memeriksakan tensinya di rumah, saya putuskan untuk membeli satu lagi yang baru. Tensimeter yang baru ini dipakainya di pergelangan tangan, seperti memakai jam. Ukurannya tentu saja lebih kecil dan simple.
            Untuk selanjutnya, tensimeter yang lama, yang dipakai di lengan, saya peruntukkan bagi tetangga atau siapa saja yang kebetulan ingin memeriksakan tensinya di rumah. Sedangkan tensimeter yang baru, yang dipakai di pergelangan, saya khususkan untuk diriku sendiri (hehehe…egois ya..). Soalnya agak rentan rusak kalau dipakai bergantian dengan banyak orang.
            Dari tensimeter itu, ada hal yang bisa saya syukuri. Saya bersyukur bahwa dengan tensimeter lama itu saya bisa sedikit berbagi dengan orang lain. Paling tidak dengan mengetahui berapa tensinya, mereka bisa mengatur pola makan sehat supaya tensinya bisa normal. Beberapa yang tensinya cukup tinggi, saya sarankan memeriksakan diri ke dokter.
            Terima kasih tensimeterku! Mudah-mudahan saja kondisimu selalu baik ya.. Supaya kalau saya butuh, kamu bisa memberikan hasil yang terbaik dan akurat. Kuharap kamu tidak bosan ya bila sering-sering saya mintai tolong mengukur tekanan darahku. Bagaimanapun hanya kamu yang bisa melakukan yang satu itu. Dokter saja tidak bisa lho... Terima kasih ya J

Selasa, 14 Juni 2011

INILAH PENJELASAN TEPAT TENTANG TUHAN!


Gajah yang sedang asyik berendam di telaga tiba-tiba dikagetkan oleh suara tikus yang berteriak-teriak memanggilnya.
Tikus    : Hei, Gajah! Cepat keluar dari telaga!
Gajah   : Ogah ahh!
Tikus    : Sekarang juga kamu harus keluar!
Gajah   : Lho, emangnya kenapa?
Tikus    : Aku akan beri tahu kamu hanya setelah kamu keluar dari air!
Gajah   : Peduli amat! Aku tidak akan keluar!
Tikus terus berteriak-teriak menyuruh Gajah keluar dari telaga. Akhirnya Sang Gajah mengalah juga.
Gajah   : Nah, katakan sekarang. Kenapa kamu ingin aku keluar dari telaga?
Tikus    : Aku ingin tahu, apakah kamu memakai celana renangku atau tidak!
Gajah   : ?????????.......

Komentar:
LEBIH MUDAH MENGENAKAN CELANA RENANG TIKUS KEPADA GAJAH DARIPADA MENJELASKAN TENTANG TUHAN DENGAN TEPAT


Sumber: Anthony de Mello, Kicauan Burung (alih bahasa Stefan Lovu), Penerbit HeartVoice, 2010

Senin, 13 Juni 2011

Bayang-bayang Kematian

“Aku ingin hidup seribu tahun lagi”, kata Chairil Anwar.
 Apa yang dikatakan Chairil Anwar tersebut bisa jadi adalah gambaran keinginan kebanyakan orang —kalau enggan mengatakan semua— yang mendambakan keabadian hidup di dunia ini. Umumnya manusia takut, atau setidaknya merasa enggan, untuk mati. Bahkan meskipun hidupnya di dunia lebih sering diwarna kesulitan daripada kegembiraan.
Mengapa manusia takut atau enggan mati? Ada beberapa alasan yang bisa diberikan. Bisa jadi ketakutan itu disebabkan oleh adanya misteri di balik kematian itu. Tidak ada yang tahu apa persisnya yang akan terjadi setelah seseorang mati. Atau bisa jadi ketakutan itu disebabkan oleh keengganan untuk berpisah dengan keluarga atau orang-orang yang ia kasihi. Atau bisa jadi ketakutan itu disebabkan oleh ketidakrelaan untuk meninggalkan kenikmatan dunia yang selama ini ia rasakan; mungkin jabatan, kekayaan, kehormatan, dsb. Atau bisa jadi pula keengganan itu disebabkan oleh belum tercapainya sesuatu yang dicita-citakan dalam hidup. Seseorang yang hidupnya selalu dirundung kesedihan, sangat merindukan datangnya saat-saat berbahagia di masa depan (seolah-olah) sebagai kompensasi bagi kesusahannya selama ini.
Katakutan atau keengganan untuk mati itu membuat manusia berusaha keras untuk menghindari atau sekadar menundanya. Ketika sakit, seseorang berusaha untuk berobat meskipun dengan biaya yang mahal. Ketika ada bahaya yang mengancam keselamatan jiwa, seseorang akan berusaha mengelak atau melawan untuk mempertahankan diri. Semua itu dilakukan karena manusia menyadari bahwa sakit penyakit dan kecelakaan adalah jembatan terdekat menuju maut.