Tampilkan postingan dengan label Refleksi Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Oktober 2012

Ulang Tahun HD yang Kelima


Ini ulang tahun HD-ku yang kelima. Lima tahun sudah aku menjalani hemodialisis secara rutin. Awalnya dua kali seminggu, tapi kemudian menjadi tiga kali seminggu.
26 Oktober 2007, di RSUP Sardjito Yogyakarta, sebulan sebelum ulang tahunku yang ke-22, aku menjalani hemodialisis pertama. Masih terbayang bagaimana perawat menjemputku di ruang perawatan lalu membawaku dengan kursi roda ke ruang hemodialisis. Waktu itu aku hanya ditemani kakakku yang nomor lima, yang datang dari kampungku, Toraja. Belakangan baru menyusul Tante Ludia Tipa dan suaminya, keluargaku di Jogja.
Rasa cemas, kuatir, takut memenuhi pikiranku kala itu. Apalagi kata orang, cuci darah itu menyebabkan ketergantungan. Satu kali saja cuci darah, maka selamanya akan cuci darah. Kata orang lagi, pasien cuci darah itu tidak panjang umurnya.
Tapi aku lebih percaya kata dokter bahwa jika tidak segera cuci darah, akibatnya bisa fatal. Aku juga percaya kata seorang teman, yang juga seorang perawat, bahwa kemungkinan aku masih berada dalam, apa yang disebutnya, golden period. Suatu waktu dimana aku hanya akan melakukan cuci darah beberapa kali lalu sembuh. Sayangnya, golden period  yang dimaksud itu ternyata tak berpihak pada aku.
Lima tahun berlalu. Cuci darah menjadi kegiatan rutinku setiap minggu. Aku berusaha menjalaninya dengan sabar dan ikhlas. Kalau boleh jujur, rutinitas seperti ini benar-benar melelahkan dan membosankan. Sering bahkan terasa menyakitkan. Tapi bagaimana pun, inilah satu-satunya cara yang bisa kutempuh untuk menyambung hidup saat ini.
Bila direnungkan lebih dalam, sebenarnya masih untung aku masih bisa cuci darah. Masih untung aku berada di era yang sudah memiliki teknologi yang maju. Bisa dibayangkan jika alat cuci darah belum ditemukan, maka pasien gagal ginjal sepertiku benar-benar tinggal menunggu ajal. Masih untung juga aku masih bisa mengakses pelayanan cuci darah ini. Bisa dibayangkan seandainya aku tinggal jauh di pelosok tanah air, yang nyaris tak punya akses transportasi dan yang tak tersentuh pelayanan medis, aku pasti hanya pasrah saja menunggu ajal menjemput. Dari segi biaya, aku sungguh beruntung bisa mendapatkan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), yang dengannya aku bisa menjalani cuci darah tanpa membayar sendiri. Bayangkan jika aku harus membayar sendiri. Darimana aku dan keluargaku mendapatkan dana yang begitu besar untuk cuci darah tiga kali seminggu. Andai harta yang kami punya dijual semua pun, paling itu hanya bisa membayar beberapa bulan biaya cuci darahku. Setelah itu, lagi-lagi aku hanya tinggal menunggu ajal.
Tapi Tuhan memang maha adil. Dalam setiap kesulitan hidup Dia selalu menyiapkan jalan keluar yang tepat. Sebelum aku mengalami gagal ginjal, Tuhan sudah menyiapkan alat hemodialisis yang bisa aku akses dengan gratis. Tuhan memudahkan aku mendapatkan kartu Jamkesmas. Tuhan mempertemukan aku dengan orang-orang yang ikhlas membantu aku. Tuhan mencukupkan segala kebutuhan makan-minum, obat-obatan, dan kebutuhan medis lainnya lewat keluarga, para sahabat, dan orang lain yang mencintaiku. Tuhan menghadirkan aku dalam keluarga yang kasih sayangnya tak ada duanya. Terlebih, Tuhan memberiku kekuatan menjalani semuanya. Aku sungguh merasakan bahwa daya tahan fisik dan mentalku cukup kuat.
Sekarang, jika harus mengeluh, terlalu banyak hal yang bisa aku keluhkan. Terlalu banyak hal yang bisa membuatku menangis. Memikirkan dan merasakan penyakit dengan segala komplikasinya yang tak tahu kapan sembuhnya, sungguh menyayat hati. Melihat teman-teman yang sebagian besar sudah bekerja dan hidup mandiri, sering membuatku iri, sedih, dan minder. Aku juga ingin seperti mereka. Aku juga ingin dibutuhkan orang lain. Aku juga ingin meringankan beban keluarga. Tapi aku tak tahu harus berbuat apa. Hidup seperti ini benar-benar terasa tak berguna.
Tapi sudahlah. Ini bukan saatnya lagi untuk bersedih dan menyesali diri. Ini saatnya untuk bersyukur atas apa yang masih kita miliki. Ini saatnya untuk membangun semangat. Ini saatnya untuk membesarkan harapan dan optimisme. Ini saatnya untuk menjalani semuanya dengan perasaan sabar dan ikhlas. Ini saatnya untuk menikmati cinta dan kasih sayang dari keluarga, para sahabat, dan orang-orang disekitar kita. Ini saatnya untuk lebih hening mendengarkan suara alam dan mengaminkan kebesaran Tuhan di dalamnya. Ini saatnya untuk bertobat dan memperbaiki diri. Ini saatnya untuk jatuh bersama dedaunan, mengalir bersama air, berhembus bersama angin, dan melambung bersama awan.
Thom, met ultah HD yang kelima ya…. (tersenyum)


Kamis, 16 Februari 2012

Orang Miskin Tak Seharusnya Sakit?

Kadang saya berpikir kalau orang miskin memang tak seharusnya sakit. Memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah sulit, apalagi jika harus ditambah dengan biaya pengobatan yang mahal. Tentu semuanya menjadi lebih berat. Mungkin itulah sebabnya sebagian orang dengan terpaksa memilih di rawat di rumah saja daripada harus dirawat inap di rumah sakit. Atau memilih berobat secara alternatif saja daripada harus berobat secara medis. Syukur-syukur jika pengobatan alternatif itu berhasil. Jika tidak, rasa sakit terpaksa ditahan hingga mujizat datang atau maut yang menjemput. Tapi mungkin kita tak harus pesimis begini. Kita percaya Tuhan punya rencana indah dalam perjalanan hidup kita. Ya!
Saya jadi teringat pada seorang teman HD, seorang bapak berusia kira-kira 50 tahun. Dia sudah meninggal sekitar dua tahun lalu. Setiap mau HD, dia selalu datang sendirian. Tak ada yang mengantar. Begitu juga saat dia pulang. Dia pulang dengan mengendarai motor sendiri. Diam-diam, saya sering memperhatikan bapak itu makan pada saat HD berjalan. Tahu gak apa yang saya lihat? Yang saya lihat adalah bapak itu selalu makan dengan lauk yang sama. Ikan kecil dengan lebar sekitar 3 cm—yang saya tidak tahu namanya—dicampur dengan sambal yang banyak. Selalu begitu. Tak pernah saya melihatnya memakai lauk yang lain.
Berbeda dengan saya. Saya lebih sering makan dengan lauk yang bervariasi. Kakak saya tinggal membelikan sesuai keinginan saya. Meskipun memang bukan makanan-makanan mahal yang saya pesan. Tapi setidaknya, lauk saya tidak monoton seperti bapak itu. Saya kasihan melihatnya. Dia sering terlihat kurang berselera dengan lauk yang—menurutku—membosankan itu.
Saya memang beruntung. Meskipun saya harus HD dengan keadaan ekonomi yang pas-pasan, tapi Tuhan menolong saya secara luar biasa. Tuhan mempertemukan saya dengan banyak orang yang berhati mulia. Orang-orang yang membantu saya tidak saja secara moriil tapi bahkan juga secara materiil. Kehadiran mereka sungguh telah banyak menolong saya keluar dari kesulitan.
Di antara orang-orang berhati mulia itu, terdapat teman-teman saya. Terutama teman-teman SMA saya. Mereka sering datang ramai-ramai mengunjungi saya di rumah. Tak jarang mereka membawakan saya bingkisan. Tapi tak hanya itu. Mereka juga mengumpulkan dana untuk saya. Dana yang sangat menolong saya untuk membeli obat-obatan dan—bahkan—untuk biaya hidup sehari-hari. Maklum saya tak punya penghasilan.
Mereka sungguh baik. Semua itu diberikan dengan satu garansi: ikhlas. Ya ikhlas tanpa suatu syarat apa pun. Ikhlas tanpa mengharapkan sesuatu sebagai balasannya. Ikhlas memberi sebagai saudara dan sahabat.
Saya terharu. Meski mereka telah banyak membantu saya, tak sedikit pun mereka memandang rendah saya. Mereka tetap menghargai dan menghormati saya. Penghargaan mereka pada saya, saya rasakan tak sedikit pun berkurang. Di mata mereka, saya bukanlah seseorang yang hanya pantas dikasihani, tapi seorang sahabat yang memang harus dikasihi. Ya, saya yakin itu. Yakin bahwa mereka menolong saya karena mereka mengasihi saya. Mereka mencintai saya.
Dalam hati saya berdoa bagi mereka. Semoga Allah yang Maha Kaya, membalas kebaikan mereka dengan kesehatan, rezeki dan kebahagiaan yang melimpah. Saya juga berdoa dan berharap, semoga kelak saya diberi kesempatan melakukan sesuatu untuk menghargai kebaikan dan cinta mereka. Amin. Terima kasih para sahabat. Terima kasih juga Tuhan karena telah mengirim orang-orang berhati mulia itu pada saya.

Senin, 13 Februari 2012

Menikah di Usia 25

Menikah di usia 25 tahun pernah menjadi obsesi pribadiku. Meskipun sebenarnya aku tidak punya alasan yang logis mengapa aku ingin menikah pada usia itu. Satu-satunya alasan yang bisa aku katakan adalah karena aku suka angka 25. Mungkin karena aku lahir pada tanggal tersebut.
Obsesi itu sebenarnya obsesi yang sedikit muluk atau berlebihan. Bagaimana tidak, hingga tamat kuliah aku belum pernah menjalin hubungan serius dengan seorang cewek. Tepatnya aku belum pernah pacaran. Meskipun aku pernah beberapa kali dekat dengan seorang cewek, tapi kedekatan itu ujung-ujungnya hanya berakhir dengan status teman. Jujur aku memang pemalu dan kurang pandai bergaul. Mungkin itu sebabnya aku selalu kesulitan untuk menyatakan cinta pada cewek yang aku taksir. Padahal mungkin saja kan cewek itu sebenarnya juga suka sama aku. Hahaha, kepedean :P
Tapi ya begitulah. Meskipun belum punya pacar, tetap saja aku pengen nikah di usia 25. Entah kenapa aku tak pernah khawatir soal jodoh. Mungkin karena aku yakin kalau jodoh itu berada di tangan Sang Pencipta. Dan aku juga yakin bakal bisa dapat jodoh sebelum menginjak usia 25. Hahaha..pede banget ya.. Tak hanya itu, dalam hati aku sudah membuat perencanaan menuju ke sana.
Rencananya aku lulus kuliah pada usia 22. Lalu setidaknya pada usia 23, aku sudah punya pekerjaan tetap. Dengan begitu, aku punya waktu sekitar 2 tahun untuk bekerja. Hasil kerja itu nantinya akan aku bagi tiga. Sebagian untuk biaya hidup sehari-hari, sebagian untuk bapak dan ibu, dan sebagian lagi aku tabung. Aku berharap dengan menabung sedikit-sedikit, kelak aku sudah ada modal menuju pelaminan. Singkat cerita, pada usia 25 aku sudah siap menikah.
******
Kini usiaku sudah 26. Lebih malah. Tapi jangankan menikah, tanda-tanda menuju ke sana saja, tidak jelas. Aku sadar, obsesi menikah di usia 25 hanya tinggal mimpi. Tapi tak apalah. Mimpi itu tak harus disesali. Bukankah aku percaya bahwa jodoh itu berada di tangan Sang Pencipta? Ya mungkin ini belum saat yang tepat bagiku. Tuhan pasti sudah mempersiapkan saat lain yang lebih tepat.
Saat ini Tuhan sedang mempercayakan aku mengemban penyakit ginjal kronik ini. Walau terasa berat, aku ikhlaskan diri menerimanya. Aku yakin Tuhan sedang menempah aku menjadi pribadi yang kuat, pribadi yang murni. Aku yakin Dia sendirilah yang akan menolong aku melaluinya. Semoga aku berhasil melalui ujian ini.
Dan setelah semuanya aku lalui dengan baik, semoga Tuhan Yang Maha Pengasih itu, segera menganugerahi aku pemulihan dan segera mempertemukan aku dengan kesehatan yang sudah lama aku rindukan. Dan semoga setelah sembuh, Dia pun mempertemukan aku dengan rezeki dan jodoh yang baik. Amin.

Sabtu, 26 November 2011

Selamat Ulang Tahun, Tom!

Kemarin adalah ulang tahun saya. Saya genap berusia 26 tahun. Banyak teman yang memberi ucapan selamat. Ada yang langsung menelepon, ada juga yang hanya mengirim pesan lewat sms atau situs pertemanan, facebook. Ada yang memberi ucapan agak panjang, ada juga yang sangat singkat dengan menulis “HBD” saja.  Tapi terlepas dari panjang-pendeknya pesan-pesan itu, intinya sama. Mereka memberi saya sesuatu. Sesuatu itu adalah kebahagiaan.
Saya bahagia tidak saja karena umur saya masih dipanjangkan, tapi terutama karena saya tahu bahwa ada sekian banyak orang yang sayang sama saya. Ada sekian banyak orang yang peduli sama saya. Ada sekian banyak orang yang berempati sama saya. Ada sekian banyak orang yang mendukung saya. Ada sekian banyak orang yang mendoakan saya. Ada sekian banyak orang yang mengharapkan saya menjadi baik. Mereka itu tak lain adalah keluarga saya, teman-teman saya, sahabat-sahabat saya, atau sekedar kenalan-kenalan saya. Mereka memenuhi saya dengan perhatian dan kasih sayang.
Maka, betapa pun kemarin tidak ada perayaan yang semarak, betapa pun kemarin tidak ada acara tiup lilin dan potong kue, dan betapa pun kemarin saya harus berulangtahun di ruang hemodialisa, saya tetapLah merasa bahagia. Bahagia karena aku dicintai.
Terima kasih Indo’ dan Ambe’. Terima kasih keluargaku semua. Terima kasih sahabat-sahabatku. Terima kasih kekasih hatiku.
Di atas semuanya itu, terima kasih, puji syukur, dan segala hormat dan kemuliaan hanya bagi Dia, Tuhan Yang Maha Kasih.
Selamat ulang tahun, Tom.

Rabu, 23 November 2011

Inilah Untungnya Jadi Orang Kurus

Badan kurus punya tantangan tersendiri. Bagi sebagian orang, keadaan ini sering membuat minder karena dianggap tidak good looking. Dan, bahkan, akan terdengar menyakitkan bila ada yang mengolok dengan sebutan “si kurus”, “kurang gizi”, atau “tengkorak hidup”. Ada juga yang mengejek dengan berkata,  “awas lho ketiup angin!”.
Namun begitu, ternyata badan kurus itu ada juga untungnya. Keuntungan itu terutama saya sadari setelah saya menjalani cuci darah dimana saya harus sering-sering berhadapan dengan jarum suntik, jarum infus dan tusukan jarum-jarum cuci darah.
Ditusuk jarum itu menyakitkan. Apalagi jarum infus dan jarum cuci darah yang ukurannya lebih besar. Sakit dan perih. Celakanya, menemukan pembuluh yang tepat itu ternyata tak selalu mudah. Dokter dan perawat sering kesulitan dan terpaksa melakukan tusukan beberapa kali untuk mendapatkan tusukan pada pembuluh darah yang tepat.
Dan inilah untungnya jadi orang kurus. Dokter dan perawat tidak perlu terlalu repot menemukan pembuluh darah yang diinginkan. Karena pada orang kurus seperti saya, pembuluh darahnya mudah terlihat dan dengan merabah sebentar saja, dokter atau perawat dapat segera menentukan lokasi tusukan yang tepat. Biasanya sekali tusukan langsung berhasil. Dengan begitu, setidaknya saya tidak perlu merasakan sakit lebih lama.
Hal itu berbeda pada orang yang berbadan gemuk. Tumpukan lemak yang tebal menyebabkan pembuluh darah mereka tertutup sehingga sulit ditemukan. Akibatnya mereka terpaksa harus menahan rasa sakit dan perih lebih lama gara-gara ditusuk berulang kali sampai pembuluh darahnya ditemukan.
Tak jarang saya melihat ada pasien yang sampai menangis, mengerang, bahkan berteriak-teriak  karena tak tahan ditusuk berkali-kali. Maka bercermin dari semua itu, saya sadar! Ternyata ada untungnya jadi orang kurus.

Kamis, 17 November 2011

Memeluk Penyakit ala Gede Prama

Kadang saya merasa sedih dengan keadaan sakit seperti ini. Bagaimana tidak, saya sekarang tidak lagi bebas kemana-mana karena harus rutin cuci darah. Saya tidak lagi bebas memakan makanan yang saya mau karena harus mengatur asupan makanan. Saya tidak lagi bebas melakukan pekerjaan yang agak berat karena saya gampang capek. Singkatnya, aktivitas saya menjadi begitu terbatas. Tinggal di rumah tanpa ngapa-ngapain setiap hari, serasa tinggal di pengasingan yang membosankan.

Rupanya, menjalani cuci darah selama 4 tahun belum sepenuhnya mampu membentuk saya menjadi pribadi yang sabar dan ikhlas. Saya masih sering mengeluh. Saya masih sering sedih. Saya masih sering menyesali keadaan. Mental dan iman saya masih mudah rapuh.

Pada suatu kesempatan, setelah membaca beberapa tulisan Gede Prama di sebuah blog, saya meninggalkan pertanyaan buat beliau di kolom komentar. Singkatnya, saya mohon nasehat dan bimbingan beliau bagaimana agar saya bisa berdamai dengan penyakit saya dan bagaimana agar saya bisa bersikap lebih tulus dalam menerima keadaan saya saat ini.

Dengan lembut dan penuh empati, beliau membalas pesan saya. Beliau menulis:

Yed, saya sangat berempati dg sakit Anda. Di umur semuda Anda, Anda sdh dibebani penyakit seberat itu. Bedanya dg pendekatan Barat yg membuang segala hal yg berbau negatif (penyakit, kesedihan, penderitaan dan sejenis), dlm pendekatan kesembuhan ala Timur, kesembuhan lebih mungkin terjadi kalau kita memandang dan memperlakukan kehidupan secara holistik. Sederhananya, serupa siang dan malam, mirip cuaca terang dan mendung, keduanya senantiasa ada secara berdampingan, bukan ada sebagai dua hal yg bermusuhan. Ini yg disebut holistik. Belajar dr sini, belajarlah memeluk penyakit Anda, selembut Anda memeluk kesehatan, belajar menyongsong kematian sebagaimana Anda menyongsong kelahiran dulunya. Sebagaimana bunga hari ini yg akan menjadi sampah beberapa hari kemudian, demikian juga dg tubuh kita.

Logika sederhananya, saat penyakit dipeluk, kematian disongsong dikira hidup kita tambah menderita. Pengalaman banyak orang bercerita sebaliknya. Siapa saja yg memeluk penyakitnya (baca: pandang virus penyakit sebagai Ibu yg pernah merawat Anda, sekarang giliran Anda membayar hutang kebaikannya) kemudian merasakan rasa lebih ringan, enteng, bebas. kematian juga serupa, semakin ditakuti semakin berbahaya. Ibarat berjumpa ular di lantai 3, bila seseorang melompat ketakutan, ia mati bukan karena ular, tapi mati kerena ketakutannya yg berlebihan. Berbekalkan ini, Anda boleh melaksanakan meditasi sederhana: “Saat menarik nafas berguman ke dalam, saya menarik nafas bersama rasa sakit. Saat menghembuskan nafas, saya sadar kalau saya sedang sakit”. Intinya dua, saat menarik nafas belajar ‘merawat’ rasa sakit seperti seorang Ibu merawat bayi tunggalnya. Saat mengehembuskan nafas, sadari dan awasi rasa sakit jangan sampai menimbulkan efek berbahaya sebagaimana anak kecil yg melompat ke sana ke mari. Selamat mencoba. Tks

Rabu, 16 November 2011

Maut Itu Misteri Tuhan

Saya semakin yakin bahwa kematian seseorang adalah semata-mata misteri Tuhan. Tak ada yang dapat memastikan kapan, dimana dan bagaimana hal itu terjadi.
Hal itulah yang dialami oleh tetangga saya hari ini. Pagi hari dia berangkat kerja dalam kondisi sehat dan segar. Tapi siapa sangka, sore harinya dia pulang ke rumah dalam keadaan sebagai mayat. Dia meninggal setelah terjatuh dari gedung dimana dia bekerja.
Kematian memang menjadi topik yang menakutkan bahkan mengerikan bagi kebanyakan orang. Membicarakannya saja orang enggan.
Jujur, saya pun sering takut dengan bayang-bayang kematian. Apalagi dengan penyakit yang saya alami saat ini, rasanya pintu kubur semakin dekat saja.
Tapi kemudian saya merenung. Adakah gunanya saya mengkhawatirkan kematian itu? Toh dipikirkan atau tidak dipikirkan, maut itu pasti datang. Dan apa gunanya menerka-nerka saatnya kapan? Dokter saja tidak dapat memastikan berapa umur seseorang.
Dari beberapa buku yang saya baca, saya mulai menyadari bahwa ketakutan, kekhawatiran, atau kesedihan justru akan memperburuk kondisi saya. Sebaliknya saya mulai mengerti bahwa keikhlasan, rasa syukur, cinta kasih, dan doa yang sungguh-sungguh akan berdampak positif bagi kondisi fisik, psikis, dan rohani saya.
Maka daripada saya larut dalam perasaan sedih dan ketakutan pada bayang-bayang kematian, saya berusaha meyakinkan diri saya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahwa pasti ada hal indah di balik sakit ini. Bahwa selalu ada hal-hal positif yang pantas disyukuri.
Dan yang terpenting saya meyakinkan diri saya bahwa di dalam Tuhan, segala yang baik pasti terjadi. Karenanya, saya tidak boleh kehilangan pengharapan. Saya tidak boleh putus asa. Sebaliknya saya harus meyakini bahwa mujizat Tuhan mampu memulihkan kesehatan saya. Saya harus semangat!

Sabtu, 15 Oktober 2011

Nah, itu baru benar!

            Kepulangan saya HD setiap Jumat siang bertepatan dengan saat menjelang sholat Jumat. Di jalan yang saya lalui terlihat banyak orang dengan antusias menuju masjid. Ada yang jalan kaki, ada pula yang naik kendaraan. Yang menarik perhatian saya adalah mereka yang berangkat ke masjid menggunakan sepeda motor. Dengan pakaian rapi khas orang mau sholat, pada umumnya mereka tidak memakai helm.
            Saya heran! Dalam hati saya bertanya-tanya. Apakah memang ada toleransi tidak memakai helm bagi orang yang berangkat ke masjid untuk sholat Jumat? Jika tidak, mengapa pemandangan yang serupa selalu terjadi setiap Jumat siang? Sepertinya tidak ada tindakan tegas dari petugas lalu lintas, bahkan cenderung membiarkannya.
            Namun bisa jadi hal ini kembali kepada kesadaran hukum masing-masing orang. Bagi yang kesadaran hukumnya tinggi, tentulah akan mengendarai sepeda motor menggunakan helm sesuai ketentuan yang berlaku. Tetapi bagi yang kesadaran hukumnya rendah, akan cenderung melanggar dengan berusaha berdalih dan membuat pembenaran bagi dirinya sendiri. Seolah-olah peraturan lalu-lintas tidak mengikat bagi mereka yang hendak beribadah.
            Tapi ada pemandangan berbeda pada perjalana pulang Jumat kemarin. Ini jarang-jarang terjadi. Tumben! Di sebuah perempatan lampu merah, polisi memberhentikan dan memeriksa beberapa orang yang kelihatannya mau sholat Jumat tapi tidak memakai helm. Dalam hati saya berkata, “Itu baru benar!”.

Sabtu, 17 September 2011

Belajar Dari Penderitaan Lazarus


Selasa, 13 September 2011 saya mendapat kunjungan doa dari gereja. Mereka yang datang ada 3 orang, seorang bapak dan 2 orang ibu. Sebelumnya saya tidak menduga akan mendapat kunjungan doa malam itu.
Sebelum berdoa, Bapak itu menyampaikan sedikit permenungan singkat disertai nasehat-nasehat yang menguatkan. Saya terkesan ketika dia menceritakan kisah Lazarus. Lazarus adalah seorang tokoh yang diceritakan kitab Injil.
Dalam cerita itu, Lazarus digambarkan sebagai seorang pengemis yang hina papa. Badannya penuh dengan borok. Rupanya dia menderita suatu penyakit kulit yang parah. Selain itu, sepertinya dia tidak bisa berjalan karena dikatakan bahwa dia hanya bisa berbaring di dekat pintu rumah orang kaya. Dia begitu tak berdaya sampai-sampai anjing saja bisa datang menjilati boroknya. Untuk menghilangkan laparnya, dia memakan sisa-sisa makanan dari meja makan orang kaya itu.
Demikianlah Lazarus menderita sepanjang hidupnya hingga dia meninggal. Namun meskipun dia menderita sepanjang hidupnya, Lazarus tidak diceritakan mengeluh atau menyampaikan keberatan kepada Allah. Ini bisa berarti bahwa Lazarus menjalani semua penderitaannya yang berat itu dengan ikhlas dan sabar. Dia tidak meninggalkan Allah. Dia setia pada imannya.
Dan lihatlah apa yang terjadi saat Lazarus dan orang kaya itu meninggal. Lazarus hidup bahagia dalam pangkuan Abraham, sedangkan orang kaya itu menderita sengsara di alam maut.
---------------
Dari Lazarus kita bisa belajar bahwa seberat apa pun penderitaan yang kita alami, jangan sekali-sekali berpaling dari Allah. Tetaplah setia pada-Nya. Percayakan semua derita dan pergumulan hidup kita pada penyelenggaraan Allah. Yakinlah bahwa apa yang kita alami di dunia ini hanyalah sementara. Setidaknya maut akan mengakhirinya. Dan jika kita setia di jalan Tuhan, Tuhan pasti akan memberikan kehidupan baru yang abadi dan bahagia di surga.
---------------
Bapak tadi mengakhiri permenungan singkatnya dengan pesan: tetaplah sabar dan jalani hidup ini dengan ikhlas. Jadikan masa sakit ini sebagai kesempatan untuk makin dekat dengan Sang Pencipta. Rajinlah berdoa dan membaca kitab suci. Semoga Allah Yang Maha Kasih mengampuni dosa-dosamu dan menganugerahi kamu kesembuhan sejati. Dan di atas semuanya itu, biarlah hanya kehendak-Nya yang terjadi.

Rabu, 22 Juni 2011

Bila Manusia Kekurangan Cinta

            Alam raya tempat kita hidup ini sesungguh adalah alam raya yang berkecukupan bahkan berkelimpahan. Tidak ada sumber daya, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia, yang kurang. Tuhan yang Mahasempurna itu tidak mungkin membuat perhitungan yang keliru sehingga ciptaannya menjadi tidak sempurna.
            Apa yang kita sebut sebagai kekurangan sesungguhnya hanyalah ketidakseimbangan jumlah atau porsi. Ada  yang punya banyak dan ada yang punya sedikit. Yang punya banyak kita sebut kaya, sedangkan yang punya sedikit kita sebut miskin.
            Lalu mengapa di alam raya yang berkelimpahan ini sebagian manusia hidup kekurangan dan menderita? Penyebabnya hanya satu: manusia kekurangan cinta kasih.Cinta kasih manusia-lah yang kurang, bukan sumber daya.
            Cinta kasih yang kurang itu membuat manusia tidak mampu merasakan penderitaan sesamanya. Cinta kasih yang kurang itu membuat manusia tidak peduli dan hanya mementingkan dirinya sendiri. Cinta kasih yang kurang itu membuat manusia enggan untuk membagikan kelebihan yang ada padanya.

Minggu, 05 Juni 2011

Kebaikan Hati Kuterima, Kebaikan Hati Kuteruskan


Di suatu siang dalam perjalanan ke RS, saya singgah di sebuah ATM untuk menarik uang. Ketika masuk, saya lihat ada seorang cewek sedang gelisah mondar-mandir di depan mesin ATM. Saya tidak terlalu peduli dan langsung melakukan transaksi di ATM sebelahnya. Tapi setelah transaksi  saya selesai, cewek itu menghampiri saya.
Dengan agak sungkan dan sedikit terbata-bata dia menjelaskan bahwa sebenarnya dia bermaksud menarik uang di ATM tapi ternyata sudah tidak bisa. Saldonya sekarang tinggal 95 ribu. Dia mau menarik 50 ribu. Padahal harus ada sisa saldo minimal 50 ribu. Saldonya kurang 5 ribu.
Lalu dia berpikir barangkali  bisa mentransfer dulu uang itu ke rekening saya lalu nanti ditarik lagi lewat kartu ATM saya. Saya pun tidak keberatan. Langsung saya coba melakukan transfer sebesar 50 ribu ke rekening saya. Ternyata tidak bisa. Muncul pemberitahuan di monitor bahwa harus ada sisa saldo minimal 50 ribu. Dia mulai terlihat kebingungan.
Saya lalu bertanya uang itu untuk apa. Kelihatannya penting sekali. Dia bilang untuk menyelesaikan tugas kampus. Dia bingung mau pinjam dari mana. Sedangkan tugas itu harus segera dikumpulkan.

Minggu, 22 Mei 2011

Pergaulan yang Buruk Merusakkan Kebiasaan yang Baik

            Dalam pertemuan kami yang pertama, dia adalah pemuda yang alim, rajin ke gereja, dan rajin mengikuti kegiatan-kegiatan kerohanian. Bahkan suatu waktu saya sempat diajak, atau lebih tepatnya dibujuk, untuk mengikuti acara retret yang diselenggarakan muda-mudi gereja. Tapi waktu itu saya tidak bisa ikut karena sedang tidak enak badan.
            Sebenarnya saya selalu simpati dan bangga dengan sikap pemuda yang alim seperti itu. Dia menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Terutama kegiatan-kegiatan yang mendukung perkembangan mental, bakat, moral dan iman spiritualnya. Kegiatan-kegiatan yang positif tersebut diharapkan mampu membentuk karakter atau kepribadian yang positif pula.
            Namun sayang, rasa simpati dan bangga saya pada pemuda tadi tak berlangsung lama. Saya bahkan kecewa. Karena dalam pertemuan kami selanjutnya, kira-kira 2 tahun kemudian, dia berubah menjadi sosok yang berbeda. Dia kini suka begadang. Hobinya karokean di bar dan minum minuman keras. Ayam sabung menjadi peliharaannya. Main judi sudah jadi hal yang biasa, apalagi kalau cuma togel. Sebaliknya, dia tak pernah lagi menginjakkan kaki di gereja. Dan tentu saja juga menarik diri dari kegiatan-kegiatan kerohanian dimana dia dulu sangat aktif.

Sabtu, 21 Mei 2011

Untung TV Kami Rusak


            Sudah beberapa bulan ini saya tak lagi menyaksikan tayangan televisi. Gara-garanya pesawat televisi, atau sebut saja TV, yang ada di rumah kami kini telah rusak dan tak kunjung diperbaiki. Sebenarnya sudah pernah dipanggilkan tukang service, yang kebetulan tetangga kami juga, tapi tetap tidak bisa diperbaiki. Katanya beberapa komponen harus diganti. Sayangnya belum ada cukup duit untuk membeli komponen yang cukup mahal itu. Akhirnya TV itu dibiarkan saja untuk menikmati dulu istrahat panjangnya.
            Sebenarnya terpikir juga untuk membeli saja TV baru, ketimbang membeli komponen yang mahal itu. Tapi rupanya, si kakak (sang tuan rumah) belum punya cukup dana. Hmm..seandainya ini sudah tanggal 33 dimana saya gajian, pasti saya sendiri yang akan membelinya. Hehehe...
            Sejak itu rumah menjadi lebih sepi.  Tak ada lagi suara berisik anak-anak, teman-teman keponakan saya, yang tiap hari mengadakan acara nonton bareng di rumah. Ah..anak-anak itu, kadang menghibur kadang menyebalkan. Menghibur kalau saya kebetulan tak punya teman di rumah. Tapi menyebalkan kalau mereka berisik saat saya mau istirahat siang.

Rabu, 18 Mei 2011

Anak Kecil Itu, Haruskah Kumarahi?

            Ekspresi mukanya seketika berubah merah ketakutan melihat laptopku jatuh ke lantai. Entah apa persisnya yang dia pikirkan, namun aku menduga dia sedang deg-degan menunggu apa yang akan aku lakukan padanya. Rupanya dia sudah pasrah menerima murka besarku sebagai akibat dari tindakannya yang ceroboh itu. Matanya yang mulai berkaca-kaca tak berani lagi menatapku. Dia terlihat sangat gugup. Diam.
            Laptop ini menjadi begitu berharga buatku karena merupakan hadiah dari teman. Belum setahun aku pakai. Belum pernah rusak. Dan juga belum pernah jatuh. Tapi hari itu anak kecil itu menjadi orang pertama yang menjatuhkannya ke lantai.
            Haruskah aku marah pada anak kecil itu? Haruskah aku membentak dan memakinya? Tidakkah anak itu layak diberi pelajaran atas kecerobohannya? Oh tidak! Suara hati kecilku berkata tidak! Aku sadar itu bukan kesengajaan. Itu hanya kebetulan. Dia tidak menduga kalau ayunan tangannya akan menyambar monitor hingga menjatuhkannya ke lantai.

Selasa, 17 Mei 2011

Jadilah Kehendak-Mu!

        Kita tak pernah tahu apa sesungguhnya rencana Tuhan atas hidup kita. Dan karena itu, kita tak pernah bisa memastikan seperti apa perjalanan hidup kita selanjutnya. Bahkan rencana kita satu detik ke depan pun dapat berubah jika Tuhan berkehendak lain. Satu hal yang kita imani adalah bahwa apa pun rencana Tuhan yang Ia wujudkan dalam hidup kita, itulah yang terbaik!
        Iman akan rencana indah Tuhan itu-lah yang kini berusaha saya tanamkan dalam hati. Saya mulai belajar mengimani bahwa sakit yang sekarang saya alami adalah bagian dari rencana indah Tuhan. Jika pada awalnya saya begitu terpukul dan sedih akan sakit ini, pelan-pelan saya mulai berdamai dengannya. Sakit ini kemudian saya maknai sebagai proses dan sarana pemurnian diri yang disediakan Tuhan agar saya menjadi pribadi yang kuat serta semakin dekat denganNya.
        Tiada henti saya berdoa kepada Tuhan agar Ia menganugerahi saya kesembuhan. Tiada menyerah pula saya tetap menjalani hemodialisa rutin dengan sabar, tiga kali dalam seminggu. Saya percaya inilah bagian yang harus saya kerjakan, yakni berdoa dan berusaha. Bahwa apakah kemudian saya benar-benar sembuh secara fisik, itu semata-mata dalam kehendak Sang Pencipta. Ya, jika niat dan usaha saya ini sejalan dengan kehendakNya, saya pasti sembuh.

Jumat, 06 Mei 2011

Kehadiran Keluarga, Suatu Anugerah

        Mungkin Anda adalah pribadi yang cukup kuat sehingga mampu menghadapi masa-masa sulit, seperti sakit berat,  seorang diri.  Jika demikian adanya, banyak orang yang harus belajar pada Anda, termasuk saya. Saya adalah salah satu orang yang tidak dapat berbuat banyak tanpa bantuan orang lain, terutama keluarga.
        Dalam menjalani hari-hari sebagai penderita penyakit kronis, hal-hal ringan dan sederhana saja terasa begitu berat dilakukan. Badan terasa lemas, kepala pusing dan cepat lelah. Maka kehadiran keluarga atau orang-orang dekat menjadi sesuatu yang sangat diharapkan. Mereka dapat membantu menyiapkan makan-minum, memberikan obat, menghubungi dokter, mengambilkan sesuatu, memijat, dan sebagainya. Segala pekerjaan yang tidak mampu kita alakukan, diambil alih oleh mereka.
        Selain membatasi kemampuan gerak fisik, penyakit kronis dapat pula menimbulkan ketidakstabilan emosi. Penyakit kronis yang berlangsung lama kadangkala membuat seseorang tidak sabar dan mudah bereaksi secara emosional. Mungkin sikap emosional seperti itu merupakan dampak langsung dari terganggunya keseimbangan hormonal dalam tubuh. Tetapi bisa jadi hal itu disebabkan ketidakmampuan seseorang menerima keadaannya sekarang yang serba terbatas. Karena itu keluarga yang merawat hendaknya dapat memahami bila si pasien sering emosional atau marah-marah.

Rabu, 04 Mei 2011

Doa Syukur


Bapa,
Aku bersyukur atas nafas hidup yang masih terus berhembus,
Aku bersyukur atas kekuatan, ketabahan dan ketegaran yang masih ada,
Aku bersyukur atas kebahagiaan dan harapan hidup yang tetap Kau berikan,
Aku bersyukur atas keluarga dan orang-orang terkasih, para sahabat dan setiap orang yang mencurahkan cintanya padaku,
Aku bersyukur atas lingkungan dan alam ciptaanMu yang memenuhi kebutuhan hidupku,
Aku bersyukur atas segala pengetahuan, akal dan hikmat yang telah aku terima,
Aku bersyukur atas setiap proses dan pengalaman hidup yang begitu berharga,
Aku bersyukur telah diberi waktu untuk hidup, menikmati hidup, dan mengenal kehidupan,
Bahkan kalau pun hidup di dunia ini harus berakhir di sini, aku bersyukur atas masa hidup yang telah kulalui.
Terpujilah Engkau ya Bapa,
Engkaulah sumber dan tujuan hidupku.
Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Senin, 02 Mei 2011

Catatan Hubungan Berbeda Agama

        Suatu hari seorang sahabat mengirimkan sms dan bercerita tentang hubungan cintanya yang, menurutnya, sedang di ujung tanduk. Padahal mereka telah menjalin hubungan selama bertahun-tahun. Ketika saya tanya penyebabnya apa, dia mengatakan bahwa ini hanya masalah perbedaan keyakinan. Agama yang dianut sahabat saya itu berbeda dengan agama yang dianut pacarnya. Rupanya mereka baru benar-benar menyadari perbedaan itu ketika seiring perjalanan waktu mulai terbersit keinginan untuk melangkah ke jenjang hubungan yang lebih serius.
        Lebih lanjut dia mengatakan bahwa sebenarnya ini hanya masalah ego. Masing-masing tidak mau mengalah. Padahal menurutnya, sudah semestinya pria-lah yang menjadi patokan. Dengan kata lain, seorang istri sewajarnyalah mengikuti agama yang dianut suaminya.
********
        Namun di balik alasan yang dikatakan sahabat itu, saya membaca ada hal lain yang menjadi pertimbangannya. Dugaan saya masalah perbedaan agama dimaknai sebagai masalah pertaruhan harga diri. Dengan kata lain, seorang pria yang mengikut ke agama wanitanya adalah pria yang harga dirinya rendah. Yang tak punya pendirian. Yang tak punya wibawa. Sebaliknya bila wanita yang mengikut ke agama prianya, hal itu dianggap sebagai sesuatu yang sewajarnya.

Kamis, 28 April 2011

Se-optimis Apa Kamu Memandang Masa Depan?

Saya berharap, keadaan baik yang sekarang kamu alami meyakinkan kamu bahwa masa depan akan lebih baik, atau setidaknya bahwa semua kelak akan baik-baik saja.
Namun kadang kita begitu ragu bahkan tak berani menatap masa depan dikarenakan situasi atau keadaan kurang menggembirakan yang saat ini kita alami.
Situasi atau kondisi buruk seringkali mengurung kita dalam ruang kelabu kehidupan sehingga kita tak mampu lagi melihat kesempatan baik yang ada di luar sana.
Karena itu, sesegera mungkin kita harus sadar dan bangkit dari keterpurukan emosional ini. Kita harus kembali meyakinkan diri bahwa kita diciptakan untuk meraih prestasi terbaik kehidupan.
Tuhan tidak mungkin menciptakan kita hanya untuk menjadi manusia yang terpuruk. Tetapi sebaliknya Dia menciptakan kita untuk menjadi pribadi yang luar biasa.
Namun semua itu mestilah dibarengi dengan keinginan, ikhtiar, dan doa yang tulus.
Nyalakan kembali api harapan yang mungkin sempat padam. Teruslah optimis! Masa depan selalu ada dan harapanmu tidak akan hilang.

Tuhan memberkati!

Selasa, 30 November 2010

Teladan Hidup Si Nenek Tua


Hati saya tersentuh saat menonton acara Kick Andy di Metro TV yang ketika itu mengangkat topik tentang perjuangan hidup nenek-nenek tua. Di tengah usia yang kian renta, mereka berjuang mencukupi sendiri kebutuhan hidupnya. Mereka berusaha untuk hidup mandiri, tidak bergantung pada orang lain dan juga tidak ingin merepotkan orang lain, bahkan keluarga sendiri.
Para nenek tua yang kurang beruntung itu ada yang menjadi pemecah batu kali, ada yang bekerja menguliti kacang, ada yang jadi buruh di tempat pembuatan genteng, ada yang jadi pembuat sekaligus penjual mainan anak-anak, dan ada yang menjual pecel. Intinya aneka pekerjaan dilakukan untuk sedapat mungkin mencukupi makan-minum sehari-hari.
***********
Setidaknya ada satu pelajaran berharga yang dapat kita petik dari kisah hidup mereka yaitu bahwa  dalam segala keterbatasan bahkan kekurangan mereka, mereka tetap mampu hidup sebagai manusia yang mulia dan terhormat. Mereka hidup tidak semata-mata karena belas kasih orang lain tetapi karena kerja keras mereka sendiri. Mereka hidup tidak dengan menghalalkan segala cara tetapi berjuang atas nama kejujuran.