Jumat, 26 Oktober 2012

Ulang Tahun HD yang Kelima


Ini ulang tahun HD-ku yang kelima. Lima tahun sudah aku menjalani hemodialisis secara rutin. Awalnya dua kali seminggu, tapi kemudian menjadi tiga kali seminggu.
26 Oktober 2007, di RSUP Sardjito Yogyakarta, sebulan sebelum ulang tahunku yang ke-22, aku menjalani hemodialisis pertama. Masih terbayang bagaimana perawat menjemputku di ruang perawatan lalu membawaku dengan kursi roda ke ruang hemodialisis. Waktu itu aku hanya ditemani kakakku yang nomor lima, yang datang dari kampungku, Toraja. Belakangan baru menyusul Tante Ludia Tipa dan suaminya, keluargaku di Jogja.
Rasa cemas, kuatir, takut memenuhi pikiranku kala itu. Apalagi kata orang, cuci darah itu menyebabkan ketergantungan. Satu kali saja cuci darah, maka selamanya akan cuci darah. Kata orang lagi, pasien cuci darah itu tidak panjang umurnya.
Tapi aku lebih percaya kata dokter bahwa jika tidak segera cuci darah, akibatnya bisa fatal. Aku juga percaya kata seorang teman, yang juga seorang perawat, bahwa kemungkinan aku masih berada dalam, apa yang disebutnya, golden period. Suatu waktu dimana aku hanya akan melakukan cuci darah beberapa kali lalu sembuh. Sayangnya, golden period  yang dimaksud itu ternyata tak berpihak pada aku.
Lima tahun berlalu. Cuci darah menjadi kegiatan rutinku setiap minggu. Aku berusaha menjalaninya dengan sabar dan ikhlas. Kalau boleh jujur, rutinitas seperti ini benar-benar melelahkan dan membosankan. Sering bahkan terasa menyakitkan. Tapi bagaimana pun, inilah satu-satunya cara yang bisa kutempuh untuk menyambung hidup saat ini.
Bila direnungkan lebih dalam, sebenarnya masih untung aku masih bisa cuci darah. Masih untung aku berada di era yang sudah memiliki teknologi yang maju. Bisa dibayangkan jika alat cuci darah belum ditemukan, maka pasien gagal ginjal sepertiku benar-benar tinggal menunggu ajal. Masih untung juga aku masih bisa mengakses pelayanan cuci darah ini. Bisa dibayangkan seandainya aku tinggal jauh di pelosok tanah air, yang nyaris tak punya akses transportasi dan yang tak tersentuh pelayanan medis, aku pasti hanya pasrah saja menunggu ajal menjemput. Dari segi biaya, aku sungguh beruntung bisa mendapatkan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), yang dengannya aku bisa menjalani cuci darah tanpa membayar sendiri. Bayangkan jika aku harus membayar sendiri. Darimana aku dan keluargaku mendapatkan dana yang begitu besar untuk cuci darah tiga kali seminggu. Andai harta yang kami punya dijual semua pun, paling itu hanya bisa membayar beberapa bulan biaya cuci darahku. Setelah itu, lagi-lagi aku hanya tinggal menunggu ajal.
Tapi Tuhan memang maha adil. Dalam setiap kesulitan hidup Dia selalu menyiapkan jalan keluar yang tepat. Sebelum aku mengalami gagal ginjal, Tuhan sudah menyiapkan alat hemodialisis yang bisa aku akses dengan gratis. Tuhan memudahkan aku mendapatkan kartu Jamkesmas. Tuhan mempertemukan aku dengan orang-orang yang ikhlas membantu aku. Tuhan mencukupkan segala kebutuhan makan-minum, obat-obatan, dan kebutuhan medis lainnya lewat keluarga, para sahabat, dan orang lain yang mencintaiku. Tuhan menghadirkan aku dalam keluarga yang kasih sayangnya tak ada duanya. Terlebih, Tuhan memberiku kekuatan menjalani semuanya. Aku sungguh merasakan bahwa daya tahan fisik dan mentalku cukup kuat.
Sekarang, jika harus mengeluh, terlalu banyak hal yang bisa aku keluhkan. Terlalu banyak hal yang bisa membuatku menangis. Memikirkan dan merasakan penyakit dengan segala komplikasinya yang tak tahu kapan sembuhnya, sungguh menyayat hati. Melihat teman-teman yang sebagian besar sudah bekerja dan hidup mandiri, sering membuatku iri, sedih, dan minder. Aku juga ingin seperti mereka. Aku juga ingin dibutuhkan orang lain. Aku juga ingin meringankan beban keluarga. Tapi aku tak tahu harus berbuat apa. Hidup seperti ini benar-benar terasa tak berguna.
Tapi sudahlah. Ini bukan saatnya lagi untuk bersedih dan menyesali diri. Ini saatnya untuk bersyukur atas apa yang masih kita miliki. Ini saatnya untuk membangun semangat. Ini saatnya untuk membesarkan harapan dan optimisme. Ini saatnya untuk menjalani semuanya dengan perasaan sabar dan ikhlas. Ini saatnya untuk menikmati cinta dan kasih sayang dari keluarga, para sahabat, dan orang-orang disekitar kita. Ini saatnya untuk lebih hening mendengarkan suara alam dan mengaminkan kebesaran Tuhan di dalamnya. Ini saatnya untuk bertobat dan memperbaiki diri. Ini saatnya untuk jatuh bersama dedaunan, mengalir bersama air, berhembus bersama angin, dan melambung bersama awan.
Thom, met ultah HD yang kelima ya…. (tersenyum)


Sabtu, 18 Agustus 2012

Galau Dot Kom

Aku yang tak pandai menyanyi, malam ini ikut-ikutan menyanyi—walau cuma dalam hati—mengikuti alunan lagu dari Ronan Keating. Meskipun tak persis—karena hanya beberapa bagian yang cocok di hati—tapi mungkin ini yang diistilahkan anak muda zaman sekarang dengan istilah “galau” (hahaha…emang anak muda zaman mana beta iki? Zaman batu? :-p ) Penonton harap maklum. Ternyata pasien HD juga manusia (ya ialah..masa ada tumbuhan yang HD)...dapat dirundung kegalauan, hehehe..

If Tomorrow Never Comes
By : Ronan Keating

Sometimes late at night
I lie awake and watch her sleeping
She’s lost in peaceful dreams
So I turn out the lights and lay there in the dark
And the thought crosses my mind
If I never wake up in the morning
Would she ever doubt the way I feel
About her in my heart

If tomorrow never comes
Will she know how much I loved her
Did I try in every way to show her every day
That she’s my only one
And if my time on earth were through
And she must face the world without me
Is the love I gave her in the past
Gonna be enough to last
If tomorrow never comes

’Cause I’ve lost loved ones in my life
Who never knew how much I loved them
Now I live with the regret
That my true feelings for them never were revealed
So I made a promise to myself
To say each day how much she means to me
And avoid that circumstance
Where there’s no second chance to tell her how I feel

If tomorrow never comes
Will she know how much I loved her
Did I try in every way to show her every day
That she’s my only one
And if my time on earth were through
And she must face the world without me
Is the love I gave her in the past
Gonna be enough to last
If tomorrow never comes

So tell that someone that you love
Just what you’re thinking of
If tomorrow never comes

Kamis, 16 Februari 2012

Orang Miskin Tak Seharusnya Sakit?

Kadang saya berpikir kalau orang miskin memang tak seharusnya sakit. Memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah sulit, apalagi jika harus ditambah dengan biaya pengobatan yang mahal. Tentu semuanya menjadi lebih berat. Mungkin itulah sebabnya sebagian orang dengan terpaksa memilih di rawat di rumah saja daripada harus dirawat inap di rumah sakit. Atau memilih berobat secara alternatif saja daripada harus berobat secara medis. Syukur-syukur jika pengobatan alternatif itu berhasil. Jika tidak, rasa sakit terpaksa ditahan hingga mujizat datang atau maut yang menjemput. Tapi mungkin kita tak harus pesimis begini. Kita percaya Tuhan punya rencana indah dalam perjalanan hidup kita. Ya!
Saya jadi teringat pada seorang teman HD, seorang bapak berusia kira-kira 50 tahun. Dia sudah meninggal sekitar dua tahun lalu. Setiap mau HD, dia selalu datang sendirian. Tak ada yang mengantar. Begitu juga saat dia pulang. Dia pulang dengan mengendarai motor sendiri. Diam-diam, saya sering memperhatikan bapak itu makan pada saat HD berjalan. Tahu gak apa yang saya lihat? Yang saya lihat adalah bapak itu selalu makan dengan lauk yang sama. Ikan kecil dengan lebar sekitar 3 cm—yang saya tidak tahu namanya—dicampur dengan sambal yang banyak. Selalu begitu. Tak pernah saya melihatnya memakai lauk yang lain.
Berbeda dengan saya. Saya lebih sering makan dengan lauk yang bervariasi. Kakak saya tinggal membelikan sesuai keinginan saya. Meskipun memang bukan makanan-makanan mahal yang saya pesan. Tapi setidaknya, lauk saya tidak monoton seperti bapak itu. Saya kasihan melihatnya. Dia sering terlihat kurang berselera dengan lauk yang—menurutku—membosankan itu.
Saya memang beruntung. Meskipun saya harus HD dengan keadaan ekonomi yang pas-pasan, tapi Tuhan menolong saya secara luar biasa. Tuhan mempertemukan saya dengan banyak orang yang berhati mulia. Orang-orang yang membantu saya tidak saja secara moriil tapi bahkan juga secara materiil. Kehadiran mereka sungguh telah banyak menolong saya keluar dari kesulitan.
Di antara orang-orang berhati mulia itu, terdapat teman-teman saya. Terutama teman-teman SMA saya. Mereka sering datang ramai-ramai mengunjungi saya di rumah. Tak jarang mereka membawakan saya bingkisan. Tapi tak hanya itu. Mereka juga mengumpulkan dana untuk saya. Dana yang sangat menolong saya untuk membeli obat-obatan dan—bahkan—untuk biaya hidup sehari-hari. Maklum saya tak punya penghasilan.
Mereka sungguh baik. Semua itu diberikan dengan satu garansi: ikhlas. Ya ikhlas tanpa suatu syarat apa pun. Ikhlas tanpa mengharapkan sesuatu sebagai balasannya. Ikhlas memberi sebagai saudara dan sahabat.
Saya terharu. Meski mereka telah banyak membantu saya, tak sedikit pun mereka memandang rendah saya. Mereka tetap menghargai dan menghormati saya. Penghargaan mereka pada saya, saya rasakan tak sedikit pun berkurang. Di mata mereka, saya bukanlah seseorang yang hanya pantas dikasihani, tapi seorang sahabat yang memang harus dikasihi. Ya, saya yakin itu. Yakin bahwa mereka menolong saya karena mereka mengasihi saya. Mereka mencintai saya.
Dalam hati saya berdoa bagi mereka. Semoga Allah yang Maha Kaya, membalas kebaikan mereka dengan kesehatan, rezeki dan kebahagiaan yang melimpah. Saya juga berdoa dan berharap, semoga kelak saya diberi kesempatan melakukan sesuatu untuk menghargai kebaikan dan cinta mereka. Amin. Terima kasih para sahabat. Terima kasih juga Tuhan karena telah mengirim orang-orang berhati mulia itu pada saya.

Rabu, 15 Februari 2012

I Love U, Jantungku

Kadang bila sedang buka baju, kupandangi bagian dadaku yang sekarang terlihat begitu kurus dengan tulang rusuk yang menonjol jelas. Oh sekarang denyut jantungku terlihat jelas di dada bagian kiri. Bahkan boleh dibilang sangat jelas, sehingga denyutnya bisa dihitung hanya dengan melihatnya, tanpa perabaan. Tak hanya itu, sepertinya tekanannya juga tambah kuat. Jika diperhatikan saat aku memakai baju, denyut jantungku akan tergambar pada bajuku yang juga sedikit bergetar.
Kata dokter, jantungku mengalami pembesaran. Pembesaran itu disebabkan oleh tekanan darah tinggi yang berlangsung lama. Sedangkan tekanan darah tinggi tersebut kemungkinan disebabkan oleh rendahnya hemoglobin dalam darahku. Hemoglobin adalah molekul protein pada sel darah merah yang berfungsi sebagai media transport oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh dan membawa karbondioksida dari jaringan tubuh ke paru-paru. Jika hemoglobin rendah atau kurang, jantung akan bekerja ekstra untuk memompa darah guna memenuhi kebutuhan oksigen di seluruh jaringan tubuh. Hal itulah yang memicu pembesaran jantung. Jika diusut ke pangkalnya sebenarnya semua ini adalah komplikasi lebih lanjut dari kerusakan ginjalku.
Katanya jantung yang membesar bisa berujung pada serangan jantung. Aku ngeri kalau membayangkan dua kata itu,  serangan jantung. Aku tahu dua kata itu bisa benar-benar berakibat fatal. Tapi aku yakin, jantungku adalah jantung yang kuat. Buktinya selama ini dia baik-baik saja. Aku juga yakin kalau jantungku selalu mau kuajak kompromi. Dia sahabat yang baik. Meskipun kerjanya menjadi lebih berat, dia tetap setia menjagaku.
Kepada jantungku, kukatakan ini,
“Jantungku yang baik, tetap semangat ya. Terima kasih buat semua kebaikanmu. Aku tahu engkau selalu melakukan yang terbaik untukku. Aku juga minta maaf kalau sekarang membuatmu bekerja lebih keras. Aku tak bermaksud menyusahkanmu. Semua ini di luar keinginanku. Tapi percayalah, sebagai sahabat yang baik, semuanya akan kita hadapi bersama. Kalau kita kompak, dan berserah pada Sang Pencipta, kita pasti kuat dan berhasil. Kita menjadi sehat dan bahagia. Tetap semangat, jantungku. I love you.”

Senin, 13 Februari 2012

Menikah di Usia 25

Menikah di usia 25 tahun pernah menjadi obsesi pribadiku. Meskipun sebenarnya aku tidak punya alasan yang logis mengapa aku ingin menikah pada usia itu. Satu-satunya alasan yang bisa aku katakan adalah karena aku suka angka 25. Mungkin karena aku lahir pada tanggal tersebut.
Obsesi itu sebenarnya obsesi yang sedikit muluk atau berlebihan. Bagaimana tidak, hingga tamat kuliah aku belum pernah menjalin hubungan serius dengan seorang cewek. Tepatnya aku belum pernah pacaran. Meskipun aku pernah beberapa kali dekat dengan seorang cewek, tapi kedekatan itu ujung-ujungnya hanya berakhir dengan status teman. Jujur aku memang pemalu dan kurang pandai bergaul. Mungkin itu sebabnya aku selalu kesulitan untuk menyatakan cinta pada cewek yang aku taksir. Padahal mungkin saja kan cewek itu sebenarnya juga suka sama aku. Hahaha, kepedean :P
Tapi ya begitulah. Meskipun belum punya pacar, tetap saja aku pengen nikah di usia 25. Entah kenapa aku tak pernah khawatir soal jodoh. Mungkin karena aku yakin kalau jodoh itu berada di tangan Sang Pencipta. Dan aku juga yakin bakal bisa dapat jodoh sebelum menginjak usia 25. Hahaha..pede banget ya.. Tak hanya itu, dalam hati aku sudah membuat perencanaan menuju ke sana.
Rencananya aku lulus kuliah pada usia 22. Lalu setidaknya pada usia 23, aku sudah punya pekerjaan tetap. Dengan begitu, aku punya waktu sekitar 2 tahun untuk bekerja. Hasil kerja itu nantinya akan aku bagi tiga. Sebagian untuk biaya hidup sehari-hari, sebagian untuk bapak dan ibu, dan sebagian lagi aku tabung. Aku berharap dengan menabung sedikit-sedikit, kelak aku sudah ada modal menuju pelaminan. Singkat cerita, pada usia 25 aku sudah siap menikah.
******
Kini usiaku sudah 26. Lebih malah. Tapi jangankan menikah, tanda-tanda menuju ke sana saja, tidak jelas. Aku sadar, obsesi menikah di usia 25 hanya tinggal mimpi. Tapi tak apalah. Mimpi itu tak harus disesali. Bukankah aku percaya bahwa jodoh itu berada di tangan Sang Pencipta? Ya mungkin ini belum saat yang tepat bagiku. Tuhan pasti sudah mempersiapkan saat lain yang lebih tepat.
Saat ini Tuhan sedang mempercayakan aku mengemban penyakit ginjal kronik ini. Walau terasa berat, aku ikhlaskan diri menerimanya. Aku yakin Tuhan sedang menempah aku menjadi pribadi yang kuat, pribadi yang murni. Aku yakin Dia sendirilah yang akan menolong aku melaluinya. Semoga aku berhasil melalui ujian ini.
Dan setelah semuanya aku lalui dengan baik, semoga Tuhan Yang Maha Pengasih itu, segera menganugerahi aku pemulihan dan segera mempertemukan aku dengan kesehatan yang sudah lama aku rindukan. Dan semoga setelah sembuh, Dia pun mempertemukan aku dengan rezeki dan jodoh yang baik. Amin.

Senin, 06 Februari 2012

Ngantuk

Rasa ngantuk sering betul menghampiri saya di pagi hari. Kadang ngantuk sekali. Tulang-tulang terasa lemas dan badan mulai lesu. Kalau sudah begitu, pilihannya adalah tidur. Biasanya setelah tidur sekitar satu jam, badan akan kembali lebih segar.
Sepertinya rasa kantuk itu adalah efek samping dari obat antihipertensi yang saya minum. Soalnya setelah obat itu saya minum, tak lama kemudian saya akan mulai merasa ngantuk. Sebaliknya kalau kebetulan saya lupa minum obat itu, ternyata saya tidak merasa ngantuk.
Tapi bagaimanapun obat antihipertensi itu harus rutin saya minum setiap pagi. Kalau tidak, tekanan darah saya bisa naik dan tidak terkontrol. Saya tidak mau kejadian sekitar dua tahun lalu terulang. Waktu itu saya mengabaikan untuk minum obat. Saya pikir tensi saya akan baik-baik saja. Ternyata tanpa sadar tensi saya sudah naik tinggi sekali. Saya baru menyadarinya setelah saya tiba-tiba keringat dingin, sesak dan batuk darah. Rasanya pembuluh darah saya mau pecah waktu itu. Di lengan saya bahkan muncul bintik-bintik merah yang lumayan banyak.
Jadi kalaupun benar rasa kantuk itu adalah efek dari obat antihipertensi, tak apalah pikir saya. Ini bukan efek yang harus dikhawatirkan. Toh solusinya sederhana, tidur sebentar. Setelah itu, semuanya akan kembali baik-baik saja. Satu-satunya yang saya khawatirkan adalah mengantuk saat mengikuti misa di gereja. Apalagi karena saya selalu ikut misa pagi. Pernah sekali waktu, saking ngantuknya, saya tidak sadar dan sempat tertidur di kursi pada saat Pastor tengah berkhotbah. Saya baru tersadar setelah umat berdiri dan terdengar riuh mengucapkan syahadat. Kaget dan malu bukan main. Ternyata cuma saya yang duduk.

Sabtu, 04 Februari 2012

Ngantor

“Ga ngantor Mas?”, begitu Mas Kadino sering menyapaku saat pertama ketemu di pagi hari. Seolah-olah aku ini beneran pekerja kantoran. Tapi itulah sapaan khas Mas Kadino padaku saat ini. Aku tahu dia cuma bercanda. Tapi dalam hati aku juga diam-diam mengamini kata-kata itu. Ya, aku berharap suatu hari nanti aku benar-benar bisa ngantor di suatu kantor sungguhan, bukan di “kantor” yang sekarang, “kantor” yang sebenarnya lebih bermakna ledekan.
Memang sebagian orang mengira aku sudah bekerja. Mereka berpikir begitu hanya karena sering melihatku berangkat dari rumah sambil menggendong tas—layaknya seseorang yang mau berangkat kerja— di pagi hari, lalu pulang ke rumah dengan wajah lesu di sore hari. Bahkan kadang ada saja yang bertanya ke kakakku, “Tomas kerja dimanakah?”. Biasanya kakakku tertawa kecil dulu—karena merasa lucu dengan pertanyaan itu—baru menjelaskan fakta yang sebenarnya. Hehehe…
Faktanya, aku belum bekerja. “Kantor” yang dimaksud Mas Kadino tidak lain adalah rumah sakit tempat aku menjalani hemodialisis. Pergi ke sana rutin tiga kali seminggu, memang sudah terlihat beda-beda tipis dengan pegawai rumah sakit. Apalagi waktu yang dibutuhkan untuk berada di sana lumayan lama, sekitar 6 jam. Maka tak heran jika orang yang hanya melihatku lewat di jalan akan mengira aku benar-benar berangkat kerja.
Tapi tak apalah. Aku amini saja anggapan keliru itu—bahwa aku sudah bekerja—sebagai doa bagi masa depanku. Aku yakin, jika Tuhan berkenan menyembuhkan aku,  kelak aku pasti benar-benar bisa ngantor. Amin.

Jumat, 03 Februari 2012

Nyanyian Anak Petani

Dulu, sewaktu masih SD, kami selalu bernyanyi sebelum pelajaran dimulai. Bapak atau Ibu Guru memandu kami. Biasanya dua atau tiga lagu kami nyanyikan. Kami menyanyi dengan suara lantang dan penuh semangat khas anak-anak. Selesai bernyanyi, kami berdoa bersama dipimpin seorang siswa. Setelah itu barulah pelajaran dimulai.
Bernyanyi, mungkin itulah cara paling mujarab untuk mengusir kantuk yang sering masih menghinggapi kami di pagi hari. Bahkan bukan cuma di pagi hari, di sela-sela pelajaran siang pun kami sering diajak bernyanyi, terutama kalau kami mulai terlihat lesu atau jenuh. Tujuannya tidak lain supaya kami lebih bergairah belajar.
Lagu-lagu yang kami nyanyikan terdiri dari lagu-lagu wajib nasional, lagu-lagu Sekolah Minggu, dan lagu-lagu umum untuk anak-anak. Tidak terlalu banyak lagu yang diajarkan pada kami. Mungkin karena Bapak atau Ibu Guru juga tidak tahu banyak lagu. Tapi dari sekian lagu yang sering kami nyanyikan, ada satu lagu yang selalu saya ingat karena termasuk salah satu lagu kesukaan kami kala itu.
Lagunya sangat sederhana. Liriknya pendek sehingga gampang diingat. Lagu itu bercerita tentang petani. Kami sangat meresapi lagu itu. Mungkin karena hampir semua dari kami adalah anak petani. Lagu itu seolah menjadi bagian dari diri kami. Maka tak heran, kami senang sekali menyanyikannya.
Matahari di pagi hari
Di sawah bekerja petani
Bergembira menanam padi
Untuk makanan anak negeri
Masa kecil itu sudah berlalu hampir 20 tahun. Dan sudah belasan tahun saya tak pernah lagi menginjak sawah. Tak pernah lagi bermain lumpur. Tak pernah lagi memegang padi. Tak pernah lagi merasakan terik matahari atau dinginnya hujan di tengah sawah. Ah, saya kangen suasana itu. Saya kangen berada di sawah bersama ayah atau ibu, atau kakak, atau teman-teman, dan yang lain-lain. Saya kangen suasana desaku.

Kamis, 02 Februari 2012

Hari Ini Aku Harus Menulis

Hari ini aku harus menulis. Itulah tekadku pagi ini. Menulis sesuatu, apa pun itu, yang penting menulis. Maka di pagi yang sejuk ini aku berusaha bangun lebih awal. Setelah cuci muka dan minum sedikit air (pasien HD tidak boleh minum banyak air), aku segera mengambil laptop dan mulai menghidupkannya. Aku awali dengan memutar lagu-lagu rohani dari laptop itu. Tenang dan teduh rasanya mendengarkan lagu-lagu rohani yang lembut saat pagi-pagi begini. Syukur padaMu, Tuhan.
Oh iya, ternyata hari ini aku harus HD lagi. Tapi ada hal yang sedikit berbeda. Aku sekarang harus HD di rumah sakit lain, RS Stella Maris Makassar. Ini kali kedua aku HD di sana. Aku terpaksa pindah ke rumah sakit ini karena di rumah sakit sebelumnya, RS Labuang Baji, sedang kehabisan alat dan bahan. Aku sendiri kurang paham kenapa alat dan bahan untuk HD itu bisa kehabisan stok. Katanya sih biaya pengadaan alat dan bahan tersebut belum dibayarkan oleh pihak rumah sakit sehingga pihak distributor tidak mau mengirimkan barangnya. Pertanyaannya, kenapa belum dibayarkan? Memangnya tidak ada dana? Masa iya? Setahu aku dana sekian milyar sudah dikucurkan pemerintah untuk membiayai pasien yang masuk dalam tanggungan Jamkesmas. Atau mungkin dana itu kurang ya? Atau jangan-jangan  ini ada hubungannya dengan kabar angin bahwa pejabat rumah sakit sebelumnya memang bermasalah? Entahlah. Itu tugas penyidik.
Ada hal lain yang berbeda hari ini. Jika biasanya aku HD pada hari Senin, Rabu, dan Jumat, hari ini aku HD pada hari Kamis. Itu karena aku baru pindah dan mulai HD di RS Stella Maris pada hari Selasa kemarin. Dan karena harus HD tiga kali seminggu maka jadwal HDku dijadikan Selasa, Kamis, dan Sabtu. Perubahan ini tak masalah karena frekuensinya masih tetap, tiga kali seminggu.
Hmm…aku masih bingung mau nulis apa. Aku tidak punya ide. Ah sudahlah, lebih baik aku sarapan dulu. Nanti tambah kurus dan tambah loyo kalau terlambat makan. Siapat tahu setelah makan ada ide spektakuler yang tiba-tiba muncul, hehehe…

Senin, 19 Desember 2011

Santun



Tensimeter digital saya sering mengundang  perhatian para mahasiswa keperawatan yang sedang berpraktek di ruang HD. Rupanya sebagian besar dari mereka belum pernah melihat tensimeter digital semacam itu. Kadang mereka berkerubung sekedar untuk melihat bagaimana memakainya atau bertanya berapa harganya. Dengan senyum ramah, saya pun menjawab rasa penasaran mereka. Beberapa dari mereka biasanya akan minta izin untuk mencoba mengukur tensi mereka sendiri dengan alat itu. Saya pun tidak keberatan.
Tapi dalam pertemuan berikutnya, saya sering kesal dengan ulah mereka. Sering sekali mereka mengambil tensimeter saya tanpa meminta izin. Setelah mengambil, mereka yang berjumlah belasan orang itu, mulai antri mencoba tensimeter saya. Selesai mencoba, tanpa sedikit pun merasa bersalah, mereka mengembalikan tensimeter saya begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih.
Sebenarnya saya tidak pernah keberatan jika mereka ingin mencoba alat yang bagi mereka masih asing itu. Saya hanya menyesalkan sikap mereka yang sering tidak santun. Apalagi mereka adalah orang-orang yang masuk hitungan berpendidikan tinggi.
Saya agak khawatir. Jika sekarang mereka mulai belajar mengambil barang orang lain tanpa izin, bagaimana nanti jika mereka menjadi orang-orang yang punya kekuasaan? Saya hanya berharap mudah-mudahan kelak mereka tidak sampai menjadi koruptor!

Jumat, 16 Desember 2011

Payung di Mata Saya dan Sahabat

Musim hujan kadang mengingatkan saya pada seorang sahabat saya. Dia dan saya punya sudut pandang yang berbeda soal payung. Bagi saya, payung tak lebih dari alat perlindungan diri di musim hujan agar badan tidak jadi basah. Karenanya, jika hendak bepergian saat sedang turun hujan, saya pasti mencari payung.
Tapi sahabat saya lain. Dia menyebut diri laki-laki sejati. Makanya, dia lebih memilih basah kuyup diguyur hujan daripada harus memakai payung. Kenapa? Karena baginya, payung hanya pantas dipakai oleh kaum wanita. Jika ada laki-laki yang memakai payung, meskipun sedang turun hujan, laki-laki itu pantas disebut banci. Singkatnya, payung itu menurunkan harga diri seorang laki-laki sejati.
Dalam beberapa kesempatan ketika kami harus keluar rumah untuk mencari makanan dan kebetulan sedang turun hujan, dia memilih berlari-lari menerobos hujan menuju warung sedangkan saya dengan santai berjalan sambil memakai payung. Dalam hati saya hanya bergumam, Hmm..jangan-jangan di matanya, saya ini tak lebih dari seorang banci gara-gara saya memakai payung. Bagaimana menurut Anda?

Kamis, 15 Desember 2011

Kecelakaan Konyol yang Memalukan

Malu! Itulah reaksi yang paling saya ingat ketika tanpa sengaja saya menabrak pintu kaca sebuah minimarket. Kejadian konyol yang benar-benar memalukan. Kejadiannya sekitar jam 7 malam, 15 Maret 2011.  Ketika itu saya bermaksud membeli beberapa perlengkapan mandi. Saya sedikit buru-buru karena waktu itu ada tanda-tanda akan turun hujan.
Setelah memarkir motor, dengan langkah cepat layaknya orang yang buru-buru, saya bergegas mau masuk ke minimarket. Saya benar-benar tidak memperhatikan kalau pintu kaca itu sedang dalam posisi tertutup. Dan “akhh…”, saya menabrak pintu kaca itu sangat keras. Beruntung pintu kaca itu tidak pecah. Tapi semua mata yang ada di minimarket itu langsung mengarah ke saya.
Bibir saya sakit sekali. Saya langsung meraba jangan-jangan bibir saya berdarah, tapi syukurlah ternyata tidak ada darah.
Menyadari kalau banyak orang yang melihat saya, dan sepertinya mereka berusaha menahan tawa, saya langsung mengubah mimik muka saya seolah saya baik-baik saja. Tepatnya, saya berpura-pura merasa tidak sakit. Padahal makin lama bibir saya terasa makin tebal dan perih. Dan untuk menyamarkan rasa sakit dan rasa malu saya waktu itu, saya cepat-cepat mengambil barang yang saya inginkan lalu saya bayar di kasir.
Seolah memahami rasa malu yang saya derita, orang-orang yang ada di situ tak satu pun yang memberi komentar. Buru-buru saya kembali meninggalkan minimarket itu dengan rasa malu yang tidak terkira.
Sepanjang perjalanan ke rumah, saya mulai dibayangi  bagaimana orang-orang di minimarket tadi sedang menertawakan saya. Terbayang bagaimana ekspresi muka mereka membicarakan kekonyolan saya tadi. Saya jadi tambah malu karena salah satu dari mereka, seorang ibu, meskipun tidak akrab, tetapi kenal sama saya karena rumahnya tidak jauh dari rumah saya. Dia pasti pulang ke rumah lalu menceritakan kejadian tadi. Dan terbayang mereka sekeluarga menertawakan saya. Benar-benar memalukan.
Sesampai di rumah, saya langsung mengambil cermin dan memeriksa bibir saya. Ternyata bibir atas saya memar dan mulai bengkak. Bagian dalamnya terlihat sedikit berdarah, mungkin karena kena gigi.
Saya kemudian mengompresnya dengan air hangat, berharap bengkaknya segera berkurang. Namun yang terjadi sebaliknya. Bibir saya malah semakin tebal. Bahkan malam itu saya tidak bisa mengunyah makanan. Namun karena belum makan malam, terpaksa nasinya langsung saya telan saja tanpa dikunyah. Saya tidak bisa makan banyak malam itu. Apa boleh buat.
Keesokan paginya, bibir saya terlihat makin bengkak. Jelek banget! Saya malu sendiri melihatnya. Saya tidak berani keluar rumah. Untuk membeli Thrombophob Gel—obat anti bengkak— saja, pagi itu saya terpaksa memakai masker. Harga obatnya lima puluh ribu.
Bengkaknya berlangsung beberapa hari. Dan sepanjang itu pula, saya selalu memakai masker setiap kali keluar rumah. Tak lupa, untuk mengatasi bengkaknya, setiap hari saya kompres dengan air hangat dan saya beri Thrombophob Gel secukupnya.
Beruntung, tidak cukup satu minggu, bengkaknya sudah hilang. Rupanya Thrombophob Gel cukup manjur. Tapi meski begitu, bibir saya tetap kelihatan memar. Tak apalah, pikir saya. Yang penting bibir saya tak lagi bengkak seperti moncong babi. Sebelumnya saya sempat khawatir kalau-kalau bibir saya akan selamanya bengkak seperti itu. Bisa-bisa saya dijuluki “Pangeran Babi”,hehehe..
Puji Tuhan, sekarang bibir saya sudah sembuh. Meskipun sekarang memang terlihat sedikit kurang simetris karena bekas lukanya meninggalkan sedikit tonjolan kecil, tapi lagi-lagi “tak apalah” pikir saya. Ini sudah kemajuan yang pesat. Pemulihan yang pantas disyukuri. Terima kasih Tuhan atas bibir yang Kau berikan ini.
Anda tahu? Ternyata rasa malu itu bisa lebih menyakitkan daripada rasa sakit yang sebenarnya (pada tubuh fisik kita). Pesan saya, hati-hatilah memasuki ruangan yang berdinding kaca. Jangan sampai Anda menabrak kacanya. Karena ternyata saya bukan korban pertama. Hahaha…
Berikut beberapa foto seputar kecelakaan konyol itu, dari yang terparah sampai yang mulai membaik.







Sabtu, 03 Desember 2011

Teman Lama dan Foto Terbaruku

Seorang teman lama, baru-baru ini mengirim sms dan bertanya sedikit heran, “Yed, kemarin aku liat foto-fotomu di Fb. Tapi aku bingung. Itu yang baru, yang mana ya? Soalnya ada yang agak gemuk tapi kok ada yang kurus banget ya?” Sambil tersenyum saya jawab, “Yang keliatan paling kurus, itu yang terbaru kawan”.
“Ah masa sih?”, katanya.
Begitulah. Lagi-lagi ada yang tak percaya. Sebagaimana saya sendiri kadang tak percaya.

Sabtu, 26 November 2011

Selamat Ulang Tahun, Tom!

Kemarin adalah ulang tahun saya. Saya genap berusia 26 tahun. Banyak teman yang memberi ucapan selamat. Ada yang langsung menelepon, ada juga yang hanya mengirim pesan lewat sms atau situs pertemanan, facebook. Ada yang memberi ucapan agak panjang, ada juga yang sangat singkat dengan menulis “HBD” saja.  Tapi terlepas dari panjang-pendeknya pesan-pesan itu, intinya sama. Mereka memberi saya sesuatu. Sesuatu itu adalah kebahagiaan.
Saya bahagia tidak saja karena umur saya masih dipanjangkan, tapi terutama karena saya tahu bahwa ada sekian banyak orang yang sayang sama saya. Ada sekian banyak orang yang peduli sama saya. Ada sekian banyak orang yang berempati sama saya. Ada sekian banyak orang yang mendukung saya. Ada sekian banyak orang yang mendoakan saya. Ada sekian banyak orang yang mengharapkan saya menjadi baik. Mereka itu tak lain adalah keluarga saya, teman-teman saya, sahabat-sahabat saya, atau sekedar kenalan-kenalan saya. Mereka memenuhi saya dengan perhatian dan kasih sayang.
Maka, betapa pun kemarin tidak ada perayaan yang semarak, betapa pun kemarin tidak ada acara tiup lilin dan potong kue, dan betapa pun kemarin saya harus berulangtahun di ruang hemodialisa, saya tetapLah merasa bahagia. Bahagia karena aku dicintai.
Terima kasih Indo’ dan Ambe’. Terima kasih keluargaku semua. Terima kasih sahabat-sahabatku. Terima kasih kekasih hatiku.
Di atas semuanya itu, terima kasih, puji syukur, dan segala hormat dan kemuliaan hanya bagi Dia, Tuhan Yang Maha Kasih.
Selamat ulang tahun, Tom.

Kamis, 24 November 2011

Dokter Malas

Setahu saya, di ruang HD telah ditugaskan seorang dokter jaga. Dan setiap dua atau tiga minggu, dokter itu akan diganti oleh dokter lain. Tapi saya sering heran, kenapa dokter-dokter itu jarang sekali terlihat berjaga (stand by) di ruang HD. Kalaupun ada dokter yang datang, kebanyakan hanya datang untuk menandatangani rekam medis pasien. Setelah selesai, dia langsung pulang. Sangat jarang, bahkan hampir tidak ada dari dokter jaga tersebut yang memeriksa atau sekedar melihat-lihat kondisi pasien yang sedang menjalani HD.
Menjadi pertanyaan saya, apa iya dokter  jaga itu hanya ditugaskan untuk datang tanda tangan?
Tidak adanya dokter jaga yang benar-benar berjaga di ruang HD, kadang menimbulkan masalah bagi pasien. Pasien yang sedang kehabisan obat, misalnya, terpaksa tertunda untuk mendapatkan resep hingga dokter tersebut masuk. Begitu pula jika ada pasien yang tiba-tiba menggigil atau tiba-tiba tidak enak perasaannya, tidak ada dokter yang siap menolong. Kalaupun kemudian perawat menelepon dokter, belum tentu dokter itu bisa segera datang.
Saya mencoba memahami. Dokter-dokter itu pasti sangat sibuk. Cuma menurut saya, mestinya, sesibuk apapun mereka, tugas jaga di ruang HD itu tidak boleh ditinggalkan begitu saja.
Mereka juga tidak perlulah berjaga seharian penuh. Bahkan tidak masalah kalau mereka tidak bisa hadir setiap hari. Tapi saya kecewa ketika mereka kebetulan datang, dan hanya datang untuk menandatangani berkas pasien, lalu pulang. Saya kecewa karena kebanyakan dokter itu tidak pernah benar-benar memeriksa keadaan pasien atau sekedar berkomunikasi dengan pasien dan keluarganya. Karena kecewa, saya terpaksa menyebut mereka (maaf)  “dokter malas!”.

Rabu, 23 November 2011

Inilah Untungnya Jadi Orang Kurus

Badan kurus punya tantangan tersendiri. Bagi sebagian orang, keadaan ini sering membuat minder karena dianggap tidak good looking. Dan, bahkan, akan terdengar menyakitkan bila ada yang mengolok dengan sebutan “si kurus”, “kurang gizi”, atau “tengkorak hidup”. Ada juga yang mengejek dengan berkata,  “awas lho ketiup angin!”.
Namun begitu, ternyata badan kurus itu ada juga untungnya. Keuntungan itu terutama saya sadari setelah saya menjalani cuci darah dimana saya harus sering-sering berhadapan dengan jarum suntik, jarum infus dan tusukan jarum-jarum cuci darah.
Ditusuk jarum itu menyakitkan. Apalagi jarum infus dan jarum cuci darah yang ukurannya lebih besar. Sakit dan perih. Celakanya, menemukan pembuluh yang tepat itu ternyata tak selalu mudah. Dokter dan perawat sering kesulitan dan terpaksa melakukan tusukan beberapa kali untuk mendapatkan tusukan pada pembuluh darah yang tepat.
Dan inilah untungnya jadi orang kurus. Dokter dan perawat tidak perlu terlalu repot menemukan pembuluh darah yang diinginkan. Karena pada orang kurus seperti saya, pembuluh darahnya mudah terlihat dan dengan merabah sebentar saja, dokter atau perawat dapat segera menentukan lokasi tusukan yang tepat. Biasanya sekali tusukan langsung berhasil. Dengan begitu, setidaknya saya tidak perlu merasakan sakit lebih lama.
Hal itu berbeda pada orang yang berbadan gemuk. Tumpukan lemak yang tebal menyebabkan pembuluh darah mereka tertutup sehingga sulit ditemukan. Akibatnya mereka terpaksa harus menahan rasa sakit dan perih lebih lama gara-gara ditusuk berulang kali sampai pembuluh darahnya ditemukan.
Tak jarang saya melihat ada pasien yang sampai menangis, mengerang, bahkan berteriak-teriak  karena tak tahan ditusuk berkali-kali. Maka bercermin dari semua itu, saya sadar! Ternyata ada untungnya jadi orang kurus.

Selasa, 22 November 2011

Saya Jauh Lebih Beruntung

Andai waktu diputar kembali hingga sebelum lima tahun yang lalu, saya yakin tak seorang pun dapat menduga kalau hidup saya akan menjadi seperti sekarang ini. Ketika SD dan SMP saya selalu tampil sebagai bintang kelas. Ketika SMA, meskipun tidak tampil sebagai bintang kelas, tetapi saya selalu menonjol setidaknya untuk mata pelajaran Agama dan Bahasa Indonesia. Selalu saja ada yang mengatakan kalau masa depan saya akan sukses dan cemerlang.
Tapi kemudian apa yang terjadi? Setamat kuliah saya didiagnosis mengalami penyakit ginjal kronis dan disarankan segera menjalani cuci darah. Dan singkat cerita, saya akhirnya rutin menjalani cuci darah tiga kali seminggu. Siapa yang pernah menduga hal ini? Pada titik ini, mungkin saya pantas disebut malang.
Tapi  baiklah. Saya tak akan menyebut diri ‘malang’ di sini. Saya akan belajar bersyukur.
Seorang teman sesama pasien cuci darah pernah berkata, “Kamu masih beruntung Yed. Meskipun kamu sakit tapi kamu punya keluarga dan teman-teman yang perhatian sama kamu. Kamu bahkan punya pacar yang tak hanya cantik, tapi juga setia (hehehe…). Tidak seperti aku! Orangtuaku sudah tidak ada. Dan kamu tahu..teman-teman bahkan pacarku sendiri pergi meninggalkan aku”.
Ya, ternyata saya memang jauh lebih beruntung dibandingkan sekian banyak orang yang lain. Keberuntungan yang sering tidak saya sadari tatkala saya larut meratapi penyakit saya. Keberuntungan yang jarang saya syukuri karena menganggap diri sungguh bernasib malang. Toh, kenyataannya banyak orang lain yang lebih susah hidupnya, yang sebenarnya lebih pantas mengeluh, tetapi justru mereka lebih sabar, lebih tegar dan lebih ikhlas menjalani hidup ini.
Ya, sungguh banyak yang pantas saya syukuri. Setidaknya, saya masih bisa bernafas lega di saat ada pasien yang sedang kesulitan bernafas karena sesak. Saya masih bisa berjalan lincah di saat ada pasien yang terpaksa diangkat karena sudah tidak kuat jalan. Saya masih bisa makan sendiri di saat ada pasien yang  disuapi. Saya masih bisa mandi sendiri. Saya masih bisa jalan-jalan di mall. Saya masih bisa pergi sendiri ke gereja. Saya masih bisa internetan. Bahkan saya masih bisa membersihkan kamar dan menyapu rumah setiap pagi.
Dan yang terpenting, seperti kata seorang teman di atas, saya beruntung karena selalu dikelilingi oleh orang-orang terkasih yang setia dan penuh perhatian. Di atas semua itu, saya beruntung karena Tuhan memberi saya kesempatan menikmati berlimpah cinta-Nya di dunia ini. Semoga Dia mengampuni segala dosa dan ke-kurangbersyukur-an saya atas rahmat hidup yang telah saya terima.
“Jadi, bersyukurlah Yed! J

Kamis, 17 November 2011

Memeluk Penyakit ala Gede Prama

Kadang saya merasa sedih dengan keadaan sakit seperti ini. Bagaimana tidak, saya sekarang tidak lagi bebas kemana-mana karena harus rutin cuci darah. Saya tidak lagi bebas memakan makanan yang saya mau karena harus mengatur asupan makanan. Saya tidak lagi bebas melakukan pekerjaan yang agak berat karena saya gampang capek. Singkatnya, aktivitas saya menjadi begitu terbatas. Tinggal di rumah tanpa ngapa-ngapain setiap hari, serasa tinggal di pengasingan yang membosankan.

Rupanya, menjalani cuci darah selama 4 tahun belum sepenuhnya mampu membentuk saya menjadi pribadi yang sabar dan ikhlas. Saya masih sering mengeluh. Saya masih sering sedih. Saya masih sering menyesali keadaan. Mental dan iman saya masih mudah rapuh.

Pada suatu kesempatan, setelah membaca beberapa tulisan Gede Prama di sebuah blog, saya meninggalkan pertanyaan buat beliau di kolom komentar. Singkatnya, saya mohon nasehat dan bimbingan beliau bagaimana agar saya bisa berdamai dengan penyakit saya dan bagaimana agar saya bisa bersikap lebih tulus dalam menerima keadaan saya saat ini.

Dengan lembut dan penuh empati, beliau membalas pesan saya. Beliau menulis:

Yed, saya sangat berempati dg sakit Anda. Di umur semuda Anda, Anda sdh dibebani penyakit seberat itu. Bedanya dg pendekatan Barat yg membuang segala hal yg berbau negatif (penyakit, kesedihan, penderitaan dan sejenis), dlm pendekatan kesembuhan ala Timur, kesembuhan lebih mungkin terjadi kalau kita memandang dan memperlakukan kehidupan secara holistik. Sederhananya, serupa siang dan malam, mirip cuaca terang dan mendung, keduanya senantiasa ada secara berdampingan, bukan ada sebagai dua hal yg bermusuhan. Ini yg disebut holistik. Belajar dr sini, belajarlah memeluk penyakit Anda, selembut Anda memeluk kesehatan, belajar menyongsong kematian sebagaimana Anda menyongsong kelahiran dulunya. Sebagaimana bunga hari ini yg akan menjadi sampah beberapa hari kemudian, demikian juga dg tubuh kita.

Logika sederhananya, saat penyakit dipeluk, kematian disongsong dikira hidup kita tambah menderita. Pengalaman banyak orang bercerita sebaliknya. Siapa saja yg memeluk penyakitnya (baca: pandang virus penyakit sebagai Ibu yg pernah merawat Anda, sekarang giliran Anda membayar hutang kebaikannya) kemudian merasakan rasa lebih ringan, enteng, bebas. kematian juga serupa, semakin ditakuti semakin berbahaya. Ibarat berjumpa ular di lantai 3, bila seseorang melompat ketakutan, ia mati bukan karena ular, tapi mati kerena ketakutannya yg berlebihan. Berbekalkan ini, Anda boleh melaksanakan meditasi sederhana: “Saat menarik nafas berguman ke dalam, saya menarik nafas bersama rasa sakit. Saat menghembuskan nafas, saya sadar kalau saya sedang sakit”. Intinya dua, saat menarik nafas belajar ‘merawat’ rasa sakit seperti seorang Ibu merawat bayi tunggalnya. Saat mengehembuskan nafas, sadari dan awasi rasa sakit jangan sampai menimbulkan efek berbahaya sebagaimana anak kecil yg melompat ke sana ke mari. Selamat mencoba. Tks

Rabu, 16 November 2011

Maut Itu Misteri Tuhan

Saya semakin yakin bahwa kematian seseorang adalah semata-mata misteri Tuhan. Tak ada yang dapat memastikan kapan, dimana dan bagaimana hal itu terjadi.
Hal itulah yang dialami oleh tetangga saya hari ini. Pagi hari dia berangkat kerja dalam kondisi sehat dan segar. Tapi siapa sangka, sore harinya dia pulang ke rumah dalam keadaan sebagai mayat. Dia meninggal setelah terjatuh dari gedung dimana dia bekerja.
Kematian memang menjadi topik yang menakutkan bahkan mengerikan bagi kebanyakan orang. Membicarakannya saja orang enggan.
Jujur, saya pun sering takut dengan bayang-bayang kematian. Apalagi dengan penyakit yang saya alami saat ini, rasanya pintu kubur semakin dekat saja.
Tapi kemudian saya merenung. Adakah gunanya saya mengkhawatirkan kematian itu? Toh dipikirkan atau tidak dipikirkan, maut itu pasti datang. Dan apa gunanya menerka-nerka saatnya kapan? Dokter saja tidak dapat memastikan berapa umur seseorang.
Dari beberapa buku yang saya baca, saya mulai menyadari bahwa ketakutan, kekhawatiran, atau kesedihan justru akan memperburuk kondisi saya. Sebaliknya saya mulai mengerti bahwa keikhlasan, rasa syukur, cinta kasih, dan doa yang sungguh-sungguh akan berdampak positif bagi kondisi fisik, psikis, dan rohani saya.
Maka daripada saya larut dalam perasaan sedih dan ketakutan pada bayang-bayang kematian, saya berusaha meyakinkan diri saya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahwa pasti ada hal indah di balik sakit ini. Bahwa selalu ada hal-hal positif yang pantas disyukuri.
Dan yang terpenting saya meyakinkan diri saya bahwa di dalam Tuhan, segala yang baik pasti terjadi. Karenanya, saya tidak boleh kehilangan pengharapan. Saya tidak boleh putus asa. Sebaliknya saya harus meyakini bahwa mujizat Tuhan mampu memulihkan kesehatan saya. Saya harus semangat!