Jumat, 06 Mei 2011

Kehadiran Keluarga, Suatu Anugerah

        Mungkin Anda adalah pribadi yang cukup kuat sehingga mampu menghadapi masa-masa sulit, seperti sakit berat,  seorang diri.  Jika demikian adanya, banyak orang yang harus belajar pada Anda, termasuk saya. Saya adalah salah satu orang yang tidak dapat berbuat banyak tanpa bantuan orang lain, terutama keluarga.
        Dalam menjalani hari-hari sebagai penderita penyakit kronis, hal-hal ringan dan sederhana saja terasa begitu berat dilakukan. Badan terasa lemas, kepala pusing dan cepat lelah. Maka kehadiran keluarga atau orang-orang dekat menjadi sesuatu yang sangat diharapkan. Mereka dapat membantu menyiapkan makan-minum, memberikan obat, menghubungi dokter, mengambilkan sesuatu, memijat, dan sebagainya. Segala pekerjaan yang tidak mampu kita alakukan, diambil alih oleh mereka.
        Selain membatasi kemampuan gerak fisik, penyakit kronis dapat pula menimbulkan ketidakstabilan emosi. Penyakit kronis yang berlangsung lama kadangkala membuat seseorang tidak sabar dan mudah bereaksi secara emosional. Mungkin sikap emosional seperti itu merupakan dampak langsung dari terganggunya keseimbangan hormonal dalam tubuh. Tetapi bisa jadi hal itu disebabkan ketidakmampuan seseorang menerima keadaannya sekarang yang serba terbatas. Karena itu keluarga yang merawat hendaknya dapat memahami bila si pasien sering emosional atau marah-marah.

Kamis, 05 Mei 2011

Dokter, Sentuhlah Aku!

        Jumat, 7 Januari 2011, dengan panik saya minta dilarikan ke rumah sakit. Saat itu tekanan darah saya sangat tinggi. Saking tingginya, tensimeter dengan range pengukuran 1-299 mmHg menunjukkan hasil error. Jantung saya berdetak kencang, nafas sesak, dan pandangan mulai kabur berkunang-kunang serta sulit berkonsentrasi. Saya dipapah turun dari tangga rumah hingga masuk ke taksi.
        Setelah tiba di rumah sakit, saya langsung masuk ke unit gawat darurat. Kakak saya kemudian mengurus registrasi pasien. Setelah registrasi selesai, saya diminta oleh perawat berbaring di atas tempat tidur. Perasaan saya masih tidak enak, rasanya seperti melayang. Jantung masih berdebar-debar dan nafas belum beraturan. Dua mahasiswa keperawatan datang menanyai saya apa saja keluhan saya, mengukur tekanan darah saya kemudian menulisnya dalam lembar rekam medik.
        Tak berapa lama datanglah seorang dokter. Dia menanyakan apa keluhan saya. Saya katakan bahwa ketika di rumah tekanan darah saya sangat tinggi sampai saya merasa oleng dan sesak. Kemudian dia menanyakan obat apa yang saya minum. Saya pun memberi tahu semua obat yang saya minum.

Rabu, 04 Mei 2011

Doa Syukur


Bapa,
Aku bersyukur atas nafas hidup yang masih terus berhembus,
Aku bersyukur atas kekuatan, ketabahan dan ketegaran yang masih ada,
Aku bersyukur atas kebahagiaan dan harapan hidup yang tetap Kau berikan,
Aku bersyukur atas keluarga dan orang-orang terkasih, para sahabat dan setiap orang yang mencurahkan cintanya padaku,
Aku bersyukur atas lingkungan dan alam ciptaanMu yang memenuhi kebutuhan hidupku,
Aku bersyukur atas segala pengetahuan, akal dan hikmat yang telah aku terima,
Aku bersyukur atas setiap proses dan pengalaman hidup yang begitu berharga,
Aku bersyukur telah diberi waktu untuk hidup, menikmati hidup, dan mengenal kehidupan,
Bahkan kalau pun hidup di dunia ini harus berakhir di sini, aku bersyukur atas masa hidup yang telah kulalui.
Terpujilah Engkau ya Bapa,
Engkaulah sumber dan tujuan hidupku.
Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.

Senin, 02 Mei 2011

Catatan Hubungan Berbeda Agama

        Suatu hari seorang sahabat mengirimkan sms dan bercerita tentang hubungan cintanya yang, menurutnya, sedang di ujung tanduk. Padahal mereka telah menjalin hubungan selama bertahun-tahun. Ketika saya tanya penyebabnya apa, dia mengatakan bahwa ini hanya masalah perbedaan keyakinan. Agama yang dianut sahabat saya itu berbeda dengan agama yang dianut pacarnya. Rupanya mereka baru benar-benar menyadari perbedaan itu ketika seiring perjalanan waktu mulai terbersit keinginan untuk melangkah ke jenjang hubungan yang lebih serius.
        Lebih lanjut dia mengatakan bahwa sebenarnya ini hanya masalah ego. Masing-masing tidak mau mengalah. Padahal menurutnya, sudah semestinya pria-lah yang menjadi patokan. Dengan kata lain, seorang istri sewajarnyalah mengikuti agama yang dianut suaminya.
********
        Namun di balik alasan yang dikatakan sahabat itu, saya membaca ada hal lain yang menjadi pertimbangannya. Dugaan saya masalah perbedaan agama dimaknai sebagai masalah pertaruhan harga diri. Dengan kata lain, seorang pria yang mengikut ke agama wanitanya adalah pria yang harga dirinya rendah. Yang tak punya pendirian. Yang tak punya wibawa. Sebaliknya bila wanita yang mengikut ke agama prianya, hal itu dianggap sebagai sesuatu yang sewajarnya.

Kamis, 28 April 2011

Se-optimis Apa Kamu Memandang Masa Depan?

Saya berharap, keadaan baik yang sekarang kamu alami meyakinkan kamu bahwa masa depan akan lebih baik, atau setidaknya bahwa semua kelak akan baik-baik saja.
Namun kadang kita begitu ragu bahkan tak berani menatap masa depan dikarenakan situasi atau keadaan kurang menggembirakan yang saat ini kita alami.
Situasi atau kondisi buruk seringkali mengurung kita dalam ruang kelabu kehidupan sehingga kita tak mampu lagi melihat kesempatan baik yang ada di luar sana.
Karena itu, sesegera mungkin kita harus sadar dan bangkit dari keterpurukan emosional ini. Kita harus kembali meyakinkan diri bahwa kita diciptakan untuk meraih prestasi terbaik kehidupan.
Tuhan tidak mungkin menciptakan kita hanya untuk menjadi manusia yang terpuruk. Tetapi sebaliknya Dia menciptakan kita untuk menjadi pribadi yang luar biasa.
Namun semua itu mestilah dibarengi dengan keinginan, ikhtiar, dan doa yang tulus.
Nyalakan kembali api harapan yang mungkin sempat padam. Teruslah optimis! Masa depan selalu ada dan harapanmu tidak akan hilang.

Tuhan memberkati!