Rabu, 16 November 2011

Maut Itu Misteri Tuhan

Saya semakin yakin bahwa kematian seseorang adalah semata-mata misteri Tuhan. Tak ada yang dapat memastikan kapan, dimana dan bagaimana hal itu terjadi.
Hal itulah yang dialami oleh tetangga saya hari ini. Pagi hari dia berangkat kerja dalam kondisi sehat dan segar. Tapi siapa sangka, sore harinya dia pulang ke rumah dalam keadaan sebagai mayat. Dia meninggal setelah terjatuh dari gedung dimana dia bekerja.
Kematian memang menjadi topik yang menakutkan bahkan mengerikan bagi kebanyakan orang. Membicarakannya saja orang enggan.
Jujur, saya pun sering takut dengan bayang-bayang kematian. Apalagi dengan penyakit yang saya alami saat ini, rasanya pintu kubur semakin dekat saja.
Tapi kemudian saya merenung. Adakah gunanya saya mengkhawatirkan kematian itu? Toh dipikirkan atau tidak dipikirkan, maut itu pasti datang. Dan apa gunanya menerka-nerka saatnya kapan? Dokter saja tidak dapat memastikan berapa umur seseorang.
Dari beberapa buku yang saya baca, saya mulai menyadari bahwa ketakutan, kekhawatiran, atau kesedihan justru akan memperburuk kondisi saya. Sebaliknya saya mulai mengerti bahwa keikhlasan, rasa syukur, cinta kasih, dan doa yang sungguh-sungguh akan berdampak positif bagi kondisi fisik, psikis, dan rohani saya.
Maka daripada saya larut dalam perasaan sedih dan ketakutan pada bayang-bayang kematian, saya berusaha meyakinkan diri saya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahwa pasti ada hal indah di balik sakit ini. Bahwa selalu ada hal-hal positif yang pantas disyukuri.
Dan yang terpenting saya meyakinkan diri saya bahwa di dalam Tuhan, segala yang baik pasti terjadi. Karenanya, saya tidak boleh kehilangan pengharapan. Saya tidak boleh putus asa. Sebaliknya saya harus meyakini bahwa mujizat Tuhan mampu memulihkan kesehatan saya. Saya harus semangat!

Minggu, 16 Oktober 2011

Sesuatu Tentangmu


Ingin kutuliskan sesuatu tentangmu
Sesuatu yang indah…
Sesuatu yang indah…
Ya, sesuatu yang indah
Tapi apa? Tiba-tiba saja aku kehilangan kata-kata

Hanya sebaris ini yang  bisa kutulis:
Aku sayang kamu!

Sabtu, 15 Oktober 2011

Nah, itu baru benar!

            Kepulangan saya HD setiap Jumat siang bertepatan dengan saat menjelang sholat Jumat. Di jalan yang saya lalui terlihat banyak orang dengan antusias menuju masjid. Ada yang jalan kaki, ada pula yang naik kendaraan. Yang menarik perhatian saya adalah mereka yang berangkat ke masjid menggunakan sepeda motor. Dengan pakaian rapi khas orang mau sholat, pada umumnya mereka tidak memakai helm.
            Saya heran! Dalam hati saya bertanya-tanya. Apakah memang ada toleransi tidak memakai helm bagi orang yang berangkat ke masjid untuk sholat Jumat? Jika tidak, mengapa pemandangan yang serupa selalu terjadi setiap Jumat siang? Sepertinya tidak ada tindakan tegas dari petugas lalu lintas, bahkan cenderung membiarkannya.
            Namun bisa jadi hal ini kembali kepada kesadaran hukum masing-masing orang. Bagi yang kesadaran hukumnya tinggi, tentulah akan mengendarai sepeda motor menggunakan helm sesuai ketentuan yang berlaku. Tetapi bagi yang kesadaran hukumnya rendah, akan cenderung melanggar dengan berusaha berdalih dan membuat pembenaran bagi dirinya sendiri. Seolah-olah peraturan lalu-lintas tidak mengikat bagi mereka yang hendak beribadah.
            Tapi ada pemandangan berbeda pada perjalana pulang Jumat kemarin. Ini jarang-jarang terjadi. Tumben! Di sebuah perempatan lampu merah, polisi memberhentikan dan memeriksa beberapa orang yang kelihatannya mau sholat Jumat tapi tidak memakai helm. Dalam hati saya berkata, “Itu baru benar!”.

Selasa, 27 September 2011

Sabtu, 17 September 2011

Belajar Dari Penderitaan Lazarus


Selasa, 13 September 2011 saya mendapat kunjungan doa dari gereja. Mereka yang datang ada 3 orang, seorang bapak dan 2 orang ibu. Sebelumnya saya tidak menduga akan mendapat kunjungan doa malam itu.
Sebelum berdoa, Bapak itu menyampaikan sedikit permenungan singkat disertai nasehat-nasehat yang menguatkan. Saya terkesan ketika dia menceritakan kisah Lazarus. Lazarus adalah seorang tokoh yang diceritakan kitab Injil.
Dalam cerita itu, Lazarus digambarkan sebagai seorang pengemis yang hina papa. Badannya penuh dengan borok. Rupanya dia menderita suatu penyakit kulit yang parah. Selain itu, sepertinya dia tidak bisa berjalan karena dikatakan bahwa dia hanya bisa berbaring di dekat pintu rumah orang kaya. Dia begitu tak berdaya sampai-sampai anjing saja bisa datang menjilati boroknya. Untuk menghilangkan laparnya, dia memakan sisa-sisa makanan dari meja makan orang kaya itu.
Demikianlah Lazarus menderita sepanjang hidupnya hingga dia meninggal. Namun meskipun dia menderita sepanjang hidupnya, Lazarus tidak diceritakan mengeluh atau menyampaikan keberatan kepada Allah. Ini bisa berarti bahwa Lazarus menjalani semua penderitaannya yang berat itu dengan ikhlas dan sabar. Dia tidak meninggalkan Allah. Dia setia pada imannya.
Dan lihatlah apa yang terjadi saat Lazarus dan orang kaya itu meninggal. Lazarus hidup bahagia dalam pangkuan Abraham, sedangkan orang kaya itu menderita sengsara di alam maut.
---------------
Dari Lazarus kita bisa belajar bahwa seberat apa pun penderitaan yang kita alami, jangan sekali-sekali berpaling dari Allah. Tetaplah setia pada-Nya. Percayakan semua derita dan pergumulan hidup kita pada penyelenggaraan Allah. Yakinlah bahwa apa yang kita alami di dunia ini hanyalah sementara. Setidaknya maut akan mengakhirinya. Dan jika kita setia di jalan Tuhan, Tuhan pasti akan memberikan kehidupan baru yang abadi dan bahagia di surga.
---------------
Bapak tadi mengakhiri permenungan singkatnya dengan pesan: tetaplah sabar dan jalani hidup ini dengan ikhlas. Jadikan masa sakit ini sebagai kesempatan untuk makin dekat dengan Sang Pencipta. Rajinlah berdoa dan membaca kitab suci. Semoga Allah Yang Maha Kasih mengampuni dosa-dosamu dan menganugerahi kamu kesembuhan sejati. Dan di atas semuanya itu, biarlah hanya kehendak-Nya yang terjadi.