Kamis, 28 April 2011

Se-optimis Apa Kamu Memandang Masa Depan?

Saya berharap, keadaan baik yang sekarang kamu alami meyakinkan kamu bahwa masa depan akan lebih baik, atau setidaknya bahwa semua kelak akan baik-baik saja.
Namun kadang kita begitu ragu bahkan tak berani menatap masa depan dikarenakan situasi atau keadaan kurang menggembirakan yang saat ini kita alami.
Situasi atau kondisi buruk seringkali mengurung kita dalam ruang kelabu kehidupan sehingga kita tak mampu lagi melihat kesempatan baik yang ada di luar sana.
Karena itu, sesegera mungkin kita harus sadar dan bangkit dari keterpurukan emosional ini. Kita harus kembali meyakinkan diri bahwa kita diciptakan untuk meraih prestasi terbaik kehidupan.
Tuhan tidak mungkin menciptakan kita hanya untuk menjadi manusia yang terpuruk. Tetapi sebaliknya Dia menciptakan kita untuk menjadi pribadi yang luar biasa.
Namun semua itu mestilah dibarengi dengan keinginan, ikhtiar, dan doa yang tulus.
Nyalakan kembali api harapan yang mungkin sempat padam. Teruslah optimis! Masa depan selalu ada dan harapanmu tidak akan hilang.

Tuhan memberkati!

Senin, 14 Februari 2011

Mengenangnya . . .

Kupikir mungkin dia tak pernah benar-benar mencintaiku. Meski dia tak pernah bilang begitu secara langsung tapi aku bisa merasakan melalui sikapnya. Pernah aku tanya apakah dia juga mencintai aku? Dia mengangguk dan tersenyum. Tapi kupikir dia hanya tak mau melihatku kecewa dan sedih.
Sekian tahun telah berlalu sejak aku menyatakan perasaanku padanya dan merasa dicintai olehnya. Ya, mungkin perasaanku saja. Kami telah terpisah jarak yang jauh. Kami tak pernah lagi bertemu. Komunikasi semakin minim hingga nyaris tak pernah lagi bicara. Kami sama-sama sibuk. Belakangan aku tahu kalau ternyata dia sudah punya pacar baru.
Jujur kuakui, dia begitu istimewa bagiku. Saat-saat yang kulalui bersamanya merupakan sesuatu yang selamanya akan berkesan. Hampir tiap hari dia mencubit lenganku hingga memerah. Sakit. Tapi  aku suka. Canda tawanya selalu membuatku berbinar dan semangat. Tak ada sepi bila bersamanya.

Selasa, 01 Februari 2011

Keluhan Lama di Awal Tahun

Hari ini adalah hari Selasa, 1 Februari 2011. Meski kadang tidak tersadari, waktu telah berlalu sekian lama dengan segala suka dukanya. Dua bulan terakhir saya lalui tanpa banyak berbuat apa-apa. Kesehatan yang tiba-tiba memburuk di akhir tahun memaksa saya untuk banyak beristrihat.
Padahal satu bulan sebelumnya, November, saya baru saja mulai belajar untuk menulis. Tetapi sejak Desember hingga Januari, tak satu pun tulisan yang bisa saya hasilkan. Demikianlah, dua bulan terakhir diisi dengan istrihat panjang untuk memulihkan kondisi kesehatan.
Tulisan ini adalah tulisan perdana saya di tahun ini. Lagi-lagi semua masih dalam taraf belajar. Belum ada ide baru dan bahkan mungkin belum ada perkembangan. Di sana sini masih terlihat berantakan. Kebanyakan hanya diulang-ulang dan berputar-putar.
Tetapi saya pikir ah biarlah. Kepala saya pusing kalau mesti memikirkan apa yang harus ditulis. Apalagi kalau langsung berambisi untuk menghasilkan tulisan yang berbobot seperti penulis profesional. Meskipun hal itu merupakan cita-cita saya, tapi saya menyadari kalau saya tidaklah pintar-pintar banget untuk mencapainya dalam waktu singkat. Jadi saya rasa tak apalah mulai menulis apa saja,  termasuk cerita tak bermutu ini,hehehe…

Minggu, 05 Desember 2010

Di Bawah Lampu Jalan


Di bawah temaram lampu jalan
Sepasang mata memandang tajam
Ke kanan lalu ke kiri
Bergantian
Penuh harap

Tapi lorong gelap
Harapan nihil
Kecewa
Lalu kembali.

Selasa, 30 November 2010

Teladan Hidup Si Nenek Tua


Hati saya tersentuh saat menonton acara Kick Andy di Metro TV yang ketika itu mengangkat topik tentang perjuangan hidup nenek-nenek tua. Di tengah usia yang kian renta, mereka berjuang mencukupi sendiri kebutuhan hidupnya. Mereka berusaha untuk hidup mandiri, tidak bergantung pada orang lain dan juga tidak ingin merepotkan orang lain, bahkan keluarga sendiri.
Para nenek tua yang kurang beruntung itu ada yang menjadi pemecah batu kali, ada yang bekerja menguliti kacang, ada yang jadi buruh di tempat pembuatan genteng, ada yang jadi pembuat sekaligus penjual mainan anak-anak, dan ada yang menjual pecel. Intinya aneka pekerjaan dilakukan untuk sedapat mungkin mencukupi makan-minum sehari-hari.
***********
Setidaknya ada satu pelajaran berharga yang dapat kita petik dari kisah hidup mereka yaitu bahwa  dalam segala keterbatasan bahkan kekurangan mereka, mereka tetap mampu hidup sebagai manusia yang mulia dan terhormat. Mereka hidup tidak semata-mata karena belas kasih orang lain tetapi karena kerja keras mereka sendiri. Mereka hidup tidak dengan menghalalkan segala cara tetapi berjuang atas nama kejujuran.