Sabtu, 18 Juni 2011

Tangan Kiri yang Aneh



            Tangan kiri saya, kini sering jadi pusat perhatian di tempat umum (macam artis aja,hehehe). Karena itu, setiap keluar rumah saya selalu bawa jaket untuk menutupinya, terutama kalau sedang di angkutan umum. Pasalnya di tangan kiri saya itu terdapat pembesaran pembuluh darah yang menonjol keluar dan terlihat seperti bengkak. Tidak enak kalau dilihat-lihat orang.
            Kalau kebetulan ada yang melihat, biasanya orang langsung mengernyitkan dahi lalu dengan heran bertanya, “Mas, tangannya kenapa tu?”. Maka saya akan sedikit berbohong dan menjawab, “Oh ini bekas operasi. Kebetulan ada sedikit masalah dengan pembuluh darah di tangan.” Kemudian saya berusaha mengalihkan perhatian supaya dia tak lagi bertanya. Karena kalau saya jawab jujur, saya tak ingin suasana jadi bersedih-sedihan gara-gara kasihan pada saya.
            Ya, banyak orang, yang bertanya keheranan itu, tak pernah tahu bahwa tangan kiri saya yang terlihat bengkak itu adalah tempat memasang selang cuci darah. Sebenarnya bukan tangan yang bengkak, tapi itu adalah pembuluh darah yang membesar lalu menonjol keluar.
            Pada pasien yang sudah rutin cuci darah, memang sengaja dibuatkan saluran khusus di lengan untuk mempermudah pemasangan selang cuci darah. Kalau salurana ini belum ada, pemasangan selang cuci darah akan dilakukan tepat di lipatan paha. Tak hanya sulit, tapi pemasangan selang cuci darah di lipatan paha, dengan jarum yang cukup besar itu, membuat pasien sangat kesakitan dan tersiksa. Apalagi kalau terpaksa dilakukan berkali-kali karena pembuluhnya sulit ditemukan.

Rabu, 15 Juni 2011

Tensimeter

            Salah satu barang yang saat ini tidak boleh jauh-jauh dari saya adalah tensimeter. Tensimeter digunakan untuk mengukur tensi alias tekanan darah. Bentuk, jenis, tipe, harga dan mereknya bermacam-macam. Ada yang manual, ada yang digital. Ada yang dipakai di lengan, ada yang dipakai di pergelangan tangan. Ada yang tingkat keakuratannya tinggi, ada yang tingkat keakuratannya rendah. Ada yang harganya ratusan ribu, ada yang harganya jutaan.
            Kenapa tensimeter tidak boleh jauh-jauh dari saya? Karena saya mengalami tekanan darah tinggi atau hipertensi. Diduga hipertensi inilah yang menyebabkan kerusakan ginjal saya. Pertama kali diketahui saat saya periksa ke dokter sekitar bulan September 2007.
            Sejak kapan tensimeter tidak boleh jauh-jauh dari saya? Sejak saya menjalani hemodialisa rutin. Karena sejak itu tensi saya menjadi tidak stabil dan kadang sangat tinggi. Umumnya berada pada kisaran 150/90 mmHg – 210/110 mmHg.
            Tapi ada sebuah kejadian yang membuat saya semakin akrab dengan tensimeter dan semakin tidak bisa berpisah jauh dengannya. Macam pujaan hati aja dia itu,hehehe… Ceritanya begini…


            Pernah suatu waktu saya tidak mengukur tensi saya selama beberapa hari. Pada saat yang sama saya juga mengabaikan minum obat antihipertensi. Malam harinya tiba-tiba perasaan saya tidak enak. Tak lama kemudian saya batuk darah, lalu nafas sesak, dan jantung berdetak sangat cepat dan kencang. Rupanya tensi saya saat itu sangat tinggi. Saya perkirakan di atas 300mmHg karena saat diukur, tensimeter selalu menunjukkan hasil error. Padahal range pengukuran tensimeter saya adalah 1-299 mmHg. Saya ingat keluarga saya sangat panik waktu itu. Buru-buru saya dilarikan ke rumah sehat.
            Kejadian di malam itu membuat saya cukup trauma. Saya tidak ingin kejadian itu terulang lagi gara-gara keteledoran saya. Makanya setiap perasaan saya agak kurang enak, saya selalu berpikir mungkin tensi saya sedang tinggi. Dan buru-buru saya akan segera mengambil tensimeter dan mengukur tensi saya. Kalau benar tensi saya tinggi, itu tandanya saya harus segera minum tambahan obat antihipertensi. Kenapa saya bilang “tambahan”, karena sebenarnya saya sudah rutin minum obat antihipertensi setiap pagi dan sore. Tapi dosisnya akan saya tambah kalau tiba-tiba tensi saya melonjak naik.
            Ohya, tentang tensimeter itu sendiri, di rumah saya punya dua. Dua-duanya digital dan dioperasikan secara otomatis. Yang satu dipakai di lengan, dan satunya lagi dipakai di pergelangan tangan. Biasanya saya pakai bergantian. Cara pakainya sangat mudah. Tinggal direkatkan ke lengan atau pergelangan tangan lalu tekan tombol start. Hasil pengukuran langsung tampil di layar. Sangat gampang dan praktis sehingga saya bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan orang lain.
            Kenapa saya punya dua? Sebenarnya dulu saya cuma punya satu. Yang pertama saya punya adalah yang dipakai di lengan. Tensimeter yang itu dibelikan oleh seorang sahabat. Tapi karena makin sering ada tetangga yang juga datang memeriksakan tensinya di rumah, saya putuskan untuk membeli satu lagi yang baru. Tensimeter yang baru ini dipakainya di pergelangan tangan, seperti memakai jam. Ukurannya tentu saja lebih kecil dan simple.
            Untuk selanjutnya, tensimeter yang lama, yang dipakai di lengan, saya peruntukkan bagi tetangga atau siapa saja yang kebetulan ingin memeriksakan tensinya di rumah. Sedangkan tensimeter yang baru, yang dipakai di pergelangan, saya khususkan untuk diriku sendiri (hehehe…egois ya..). Soalnya agak rentan rusak kalau dipakai bergantian dengan banyak orang.
            Dari tensimeter itu, ada hal yang bisa saya syukuri. Saya bersyukur bahwa dengan tensimeter lama itu saya bisa sedikit berbagi dengan orang lain. Paling tidak dengan mengetahui berapa tensinya, mereka bisa mengatur pola makan sehat supaya tensinya bisa normal. Beberapa yang tensinya cukup tinggi, saya sarankan memeriksakan diri ke dokter.
            Terima kasih tensimeterku! Mudah-mudahan saja kondisimu selalu baik ya.. Supaya kalau saya butuh, kamu bisa memberikan hasil yang terbaik dan akurat. Kuharap kamu tidak bosan ya bila sering-sering saya mintai tolong mengukur tekanan darahku. Bagaimanapun hanya kamu yang bisa melakukan yang satu itu. Dokter saja tidak bisa lho... Terima kasih ya J

Selasa, 14 Juni 2011

INILAH PENJELASAN TEPAT TENTANG TUHAN!


Gajah yang sedang asyik berendam di telaga tiba-tiba dikagetkan oleh suara tikus yang berteriak-teriak memanggilnya.
Tikus    : Hei, Gajah! Cepat keluar dari telaga!
Gajah   : Ogah ahh!
Tikus    : Sekarang juga kamu harus keluar!
Gajah   : Lho, emangnya kenapa?
Tikus    : Aku akan beri tahu kamu hanya setelah kamu keluar dari air!
Gajah   : Peduli amat! Aku tidak akan keluar!
Tikus terus berteriak-teriak menyuruh Gajah keluar dari telaga. Akhirnya Sang Gajah mengalah juga.
Gajah   : Nah, katakan sekarang. Kenapa kamu ingin aku keluar dari telaga?
Tikus    : Aku ingin tahu, apakah kamu memakai celana renangku atau tidak!
Gajah   : ?????????.......

Komentar:
LEBIH MUDAH MENGENAKAN CELANA RENANG TIKUS KEPADA GAJAH DARIPADA MENJELASKAN TENTANG TUHAN DENGAN TEPAT


Sumber: Anthony de Mello, Kicauan Burung (alih bahasa Stefan Lovu), Penerbit HeartVoice, 2010

Senin, 13 Juni 2011

Bayang-bayang Kematian

“Aku ingin hidup seribu tahun lagi”, kata Chairil Anwar.
 Apa yang dikatakan Chairil Anwar tersebut bisa jadi adalah gambaran keinginan kebanyakan orang —kalau enggan mengatakan semua— yang mendambakan keabadian hidup di dunia ini. Umumnya manusia takut, atau setidaknya merasa enggan, untuk mati. Bahkan meskipun hidupnya di dunia lebih sering diwarna kesulitan daripada kegembiraan.
Mengapa manusia takut atau enggan mati? Ada beberapa alasan yang bisa diberikan. Bisa jadi ketakutan itu disebabkan oleh adanya misteri di balik kematian itu. Tidak ada yang tahu apa persisnya yang akan terjadi setelah seseorang mati. Atau bisa jadi ketakutan itu disebabkan oleh keengganan untuk berpisah dengan keluarga atau orang-orang yang ia kasihi. Atau bisa jadi ketakutan itu disebabkan oleh ketidakrelaan untuk meninggalkan kenikmatan dunia yang selama ini ia rasakan; mungkin jabatan, kekayaan, kehormatan, dsb. Atau bisa jadi pula keengganan itu disebabkan oleh belum tercapainya sesuatu yang dicita-citakan dalam hidup. Seseorang yang hidupnya selalu dirundung kesedihan, sangat merindukan datangnya saat-saat berbahagia di masa depan (seolah-olah) sebagai kompensasi bagi kesusahannya selama ini.
Katakutan atau keengganan untuk mati itu membuat manusia berusaha keras untuk menghindari atau sekadar menundanya. Ketika sakit, seseorang berusaha untuk berobat meskipun dengan biaya yang mahal. Ketika ada bahaya yang mengancam keselamatan jiwa, seseorang akan berusaha mengelak atau melawan untuk mempertahankan diri. Semua itu dilakukan karena manusia menyadari bahwa sakit penyakit dan kecelakaan adalah jembatan terdekat menuju maut.

Jumat, 10 Juni 2011

Stres Dapat Membunuh Anda


Setiap hari kita menghadapi banyak hal yang menyebabkan kita merasa stress. Merasa stres berarti berada di bawah ketegangan. Kita mempelajari bahwa ketegangan mental dan fisik tersebut menyebabkan kerusakan besar pada kita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketika ketegangan itu berakumulasi, seseorang menjadi lebih rentan terhadap penyakit jasmani, penderitaan mental emosional, dan kecelakaan. Berbagai bagian tubuh dipengaruhi langsung oleh stress: otak, kulit, rambut, paru-paru, jantung, sistem pencernaan, organ-organ reproduksi, ginjal dan otot.
Stress bisa disebabkan lingkungan, kepribadian, sikap mental, atau peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar kita. Beberapa faktor tersebut di luar kendali kita. Namun kita dapat mengendalikan cara kita bereaksi terhadap pemicu stress dalam kehidupan kita. Kita harus mengakui bahwa kita terlalu berat membebani kemampuan kita untuk menangani stress, tetapi kita terus menumpuknya atau mengizinkan orang lain menumpuknya. Salah satu alasannya adalah penyangkalan. Kita tidak percaya begitu saja bahwa sesuatu yang buruk dapat terjadi kepada kita.
Beberapa aktivitas yang penuh stress mungkin menjadi prioritas kita yang lebih tinggi daripada kesehatan kita sendiri. Mungkin kita terdorong oleh kegembiraan, kesenangan, uang, kekuasaan, keglamoran, atau penerimaan sosial. Prioritas-prioritas tersebut bisa menciptakan stress yang hebat. Kita bisa sengaja memutuskan untuk tidak membereskan tindakan kita sampai suatu waktu “kelak di kemudian hari”. Sikap kita mungkin adalah “manfaatkan kesempatan selagi ada” atau “mari minum, dan bersuka ria”. Memang benar bahwa pada berbagai musim kehidupan, kita dimotivasi oleh dorongan yang berbeda-beda. Namun, sepanjang musim kita harus berfokus pada kesehatan dan keutuhan kita.