Jumat, 06 Mei 2011

Kehadiran Keluarga, Suatu Anugerah

        Mungkin Anda adalah pribadi yang cukup kuat sehingga mampu menghadapi masa-masa sulit, seperti sakit berat,  seorang diri.  Jika demikian adanya, banyak orang yang harus belajar pada Anda, termasuk saya. Saya adalah salah satu orang yang tidak dapat berbuat banyak tanpa bantuan orang lain, terutama keluarga.
        Dalam menjalani hari-hari sebagai penderita penyakit kronis, hal-hal ringan dan sederhana saja terasa begitu berat dilakukan. Badan terasa lemas, kepala pusing dan cepat lelah. Maka kehadiran keluarga atau orang-orang dekat menjadi sesuatu yang sangat diharapkan. Mereka dapat membantu menyiapkan makan-minum, memberikan obat, menghubungi dokter, mengambilkan sesuatu, memijat, dan sebagainya. Segala pekerjaan yang tidak mampu kita alakukan, diambil alih oleh mereka.
        Selain membatasi kemampuan gerak fisik, penyakit kronis dapat pula menimbulkan ketidakstabilan emosi. Penyakit kronis yang berlangsung lama kadangkala membuat seseorang tidak sabar dan mudah bereaksi secara emosional. Mungkin sikap emosional seperti itu merupakan dampak langsung dari terganggunya keseimbangan hormonal dalam tubuh. Tetapi bisa jadi hal itu disebabkan ketidakmampuan seseorang menerima keadaannya sekarang yang serba terbatas. Karena itu keluarga yang merawat hendaknya dapat memahami bila si pasien sering emosional atau marah-marah.


        Bagi saya, kehadiran keluarga yang penuh perhatian, khususnya dalam keadaan sakit, merupakan anugerah Tuhan yang luar biasa. Mereka tidak saja menyiapkan segala kebutuhan yang bersifat materi tetapi lebih dari itu, kehadiran mereka juga memberikan dukungan moriil dan spiritual. Ada perasaan lebih tenang, lebih damai, dan lebih nyaman ketika di sisi kita ada keluarga yang mendampingi.
        Saya sudah menyaksikan betapa menyedihkannya seseorang yang sakit berat tetapi tidak ditemani siapa-siapa. Seorang pasien cuci darah, misalnya, ditinggal pergi oleh istrinya. Tak ada yang mengantar atau pun menjemputnya setiap kali menjalani cuci darah. Sekarang keadaannya sangat memprihatinkan. Nafasnya sesak, badannya lemas, dan tak kuat lagi untuk berjalan jauh. Seringkali untuk bangkit dari tempat tidurnya saja, dia harus minta bantuan perawat. Dalam keadaan seperti itu, dia harus mengurus pengobatan dan makan-minumnya seorang diri.
        Beruntunglah saya! yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang begitu perhatian dan mengasihi saya. Saya tak perlu kuatir akan kebutuhan makan-minum. Saya tak perlu kuatir akan kebutuhan pakaian bersih. Saya tak perlu repot mencari obat-obatan atau menghubungi dokter. Saya tak kesulitan bila ingin mengambil sesuatu. Juga saya tak perlu cemas bila kondisi saya agak turun. Semua karena ada orang-orang di dekatku yang setia dan tulus membantu.
        Bahkan tidak terbatas pada sanak saudara saja, tetapi teman-teman dekat pun ikut peduli dan memberi banyak dukungan moriil maupun materiil. Saya menyadari, kehadiran keluarga dan teman-teman adalah perpanjangan tangan kasih dari Tuhan sendiri. Maka sepatutnyalah saya lebih banyak bersyukur lagi. Semoga Tuhan menolong saya. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar