Minggu, 22 Mei 2011

Pergaulan yang Buruk Merusakkan Kebiasaan yang Baik

            Dalam pertemuan kami yang pertama, dia adalah pemuda yang alim, rajin ke gereja, dan rajin mengikuti kegiatan-kegiatan kerohanian. Bahkan suatu waktu saya sempat diajak, atau lebih tepatnya dibujuk, untuk mengikuti acara retret yang diselenggarakan muda-mudi gereja. Tapi waktu itu saya tidak bisa ikut karena sedang tidak enak badan.
            Sebenarnya saya selalu simpati dan bangga dengan sikap pemuda yang alim seperti itu. Dia menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Terutama kegiatan-kegiatan yang mendukung perkembangan mental, bakat, moral dan iman spiritualnya. Kegiatan-kegiatan yang positif tersebut diharapkan mampu membentuk karakter atau kepribadian yang positif pula.
            Namun sayang, rasa simpati dan bangga saya pada pemuda tadi tak berlangsung lama. Saya bahkan kecewa. Karena dalam pertemuan kami selanjutnya, kira-kira 2 tahun kemudian, dia berubah menjadi sosok yang berbeda. Dia kini suka begadang. Hobinya karokean di bar dan minum minuman keras. Ayam sabung menjadi peliharaannya. Main judi sudah jadi hal yang biasa, apalagi kalau cuma togel. Sebaliknya, dia tak pernah lagi menginjakkan kaki di gereja. Dan tentu saja juga menarik diri dari kegiatan-kegiatan kerohanian dimana dia dulu sangat aktif.


            Asumsi saya ada tiga. Pertama, bisa jadi dia punya masalah di kegiatan kerohanian itu. Konflik internal dalam suatu organisasi tentulah bukan persoalan baru. Sayangnya, konflik tersebut sering tidak ditangani dengan baik sehingga salah satu pihak memilih keluar dari organisasi.
            Kedua, bisa jadi kegiatan kerohanian itu dianggap membosankan alias tidak lagi menarik. Apalagi kalau kegiatannya itu-itu saja, tanpa variasi yang lebih menyegarkan. Hal ini bisa menyebabkan seseorang mencari kegiatan lain di luar yang dianggap lebih selaras dengan jiwa mudanya.
            Ketiga, bisa jadi karena pengaruh negatif dari lingkungannya. Dan menurut saya faktor inilah yang dominan mempengaruhi seseorang. Pemuda yang saya ceritakan tadi, misalnya. Saya menduga sikapnya mulai berubah sejak dia terpancing bergabung dengan teman-teman se-kompleks yang memang (dalam tanda kutip) “sudah rusak”. Apalagi ketika itu dia sudah bekerja dan punya penghasilan yang cukup sehingga dia mulai tergiur dengan kehidupan malam.
            Saya menutup tulisan ini dengan mengutip Kitab Suci:
“Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik”.
(Tolong ingatkan saya dimana ayat itu berada,hehehe).
            Karena itu, bergaul-lah dengan orang-orang baik dengan cara yang baik pula!
            Salam J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar