Kamis, 02 Juni 2011

Mengatasi Diare atau Berak-berak

(Resep Professor Sama Dengan Resep Tetangga)

Pengalaman saya berikut ini mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi Anda yang sedang mengalami diare alias berak-berak alias mencret-mencret. (Ih..kedengarannya jorok ya?hehehe.. Tapi kayaknya itulah istilah yang paling ‘mewakili’ ).
Bulan lalu saya benar-benar dibuat kerepotan oleh yang namanya berak-berak itu. Bagaimana tidak, saya harus bolak-balik masuk kamar mandi. Dalam sehari bisa lebih dari sepuluh kali.  Mana kamar mandinya jauh di belakang rumah lagi.. Belum 5 menit keluar, eh pengen masuk lagi. Uh bener-bener merepotkan.
Tak hanya itu. Lama-lama badan juga mulai lemas. Mungkin karena banyak cairan tubuh yang keluar. Untuk menghindari dehidrasi saya  coba minum banyak air putih. Saya membatasi minum larutan garam-gula (oralit) karena mengingat saya ini pasien HD yang harus membatasi asupan natrium. Saya hanya minum beberapa bungkus.
Sedangkan untuk mengatasi diarenya sendiri, berbagai obat sudah saya coba. Pertama saya minum Neo Enterostop, lalu Diapet, lalu New Detabs. Semuanya gagal. Selanjutnya cari info lewat internet. Dari situ saya dapat info kalau Yakult mujarab untuk mengatasi diare. Maka saya minta tolong ponakan saya untuk membelikan Yakult di warung. Sudah minum 8 botol tapi belum juga ada tanda-tanda menggembirakan.


Satu minggu berlalu diare ini belum juga sembuh. Selama itu pula saya mencoba berbagai obat yang katanya paling manjur. Mulai dari obat tradisional seperti daun jambu biji, sampai obat modern yang dibeli di apotek. Hasilnya nihil.
Betapa merepotkannya kalau pas sedang HD, tiba-tiba mau buang air. HD terpaksa dihentikan dulu dan darah dimasukkan kembali ke tubuh. Saya jadi tidak enak sama suster, terutama kalau harus 2-3 kali ke kamar mandi. Tapi syukurlah suster2 kami pada baik hati dan tidak sombong,hehehe.
Sebenarnya waktu itu ada satu obat yang hasilnya cukup signifikan. Obat itu disarankan tetangga saya. Nama obatnya, Imodium. Katanya cukup minum satu butir saja, diarenya pasti mampet. Oke nanti saya beli.
Tapi sebelum obat itu dibeli, saya coba cari info di internet untuk memastikan kandungan obat itu aman atau tidak, terutama untuk pasien ginjal. Sekalian ingin tahu harganya berapa.
Dari penelusuran lewat internet itu, saya malah dapat info bahwa Imodium itu adalah obat keras yang berbahaya buat ginjal. Ada juga yang mengatakan bahwa obat itu sebenarnya sudah tidak direkomendasikan sebagai obat diare. Cara kerja Imodium yang langsung menghentikan diare secara tiba-tiba itu, katanya kurang bagus karena racun yang ada di usus tidak terbuang ke luar dan akan diserap tubuh kembali. Padahal racun itu mestinya dikeluarkan pada saat buang air.
Atas info dari internet itu, saya jadi ragu-ragu untuk minum Imodium. Meskipun masih ada juga keyakinan saya kalau obat itu memang mujarab.
Namun karena tak ada lagi obat lain yang bisa saya coba, akhirnya saya minum juga Imodium itu. Setelah saya minum satu butir, memang khasiatnya langsung terasa. Frekuensi saya ke kamar mandi langsung berkurang. Meski begitu diarenya tidak benar-benar berhenti.
Karena agak khawatir dengan efek negatif obat itu, saya akhirnya memeriksakan diri ke ahli ginjal. Saya berpikir mungkin nanti ada obat diare yang lebih sesuai dengan pasien ginjal seperti saya. Maka berangkatlah saya.
Singkat cerita, setelah memeriksa dan menyuntik saya, dokter pun menulis resep. Dia bilang, “Cukup satu obat dulu ya”. “Iya, dok”, jawab saya.
Setelah menerima resep itu, saya pun beranjak pulang. Namun sebelum meninggalkan tempat praktek itu, saya coba membaca resep yang ditulis dokter tadi. Saya jadi heran. Hah??? Disitu tertulis dengan jelas, Imodium. Kok Imodium sih? Karena teringat info dari internet tentang bahaya imodium, saya pun langsung kembali ke dokter tadi. “Dok! ini Imodium ya dok?”. “Iya, kenapa?”. “Tapi Dok, saya sudah minum obat ini tapi belum sembuh-sembuh juga”. “Ya ga apa-apa. Kamu lanjutkan saja. Minum 3x2 butir per hari”, katanya meyakinkan. Memang selama ini saya hanya minum 1-2 butir per hari.
Saya tak banyak tanya lagi. Keraguan saya atas obat itu mulai pudar. Terutama karena yang memberikan resep ini adalah seorang dokter ahli, seorang professor. Bisa jadi info di internet tentang bahaya obat itulah yang keliru.
Hmm…kalau tahu obat ini juga yang akan diresepkan dokter, tak perlu lah saya capek-capek datang ke sana. Apalagi jaraknya cukup jauh dan bayarannya juga cukup mahal. Ternyata resep professor itu sama saja dengan resep tetanggaku! Kalau diare atau berak-berak, minum saja Imodium. Kalau satu butir tidak mempan, silahkan minum dua butir.
Soal khasiat memang tidak diragukan lagi. Saya sendiri telah membuktikan. Setelah minum 2 butir sekaligus, sekembali dari dokter itu, diare saya langsung mampet. Sebenarnya dokter meresepkan 20 butir, tapi saya hanya beli 4 butir karena waktu itu tidak ada cukup duit di dompet. Tapi syukurlah dengan minum 4 butir saja, masing-masing 2 butir pagi dan 2 butir sore, diare saya benar-benar sembuh.
Salam sehat!

(Tulisan di atas semata-mata bersifat informatif yang berangkat dari pengalaman pribadi. Sama sekali bukan anjuran kesehatan yang menggantikan konsultasi dengan dokter. Karena itu, sebaiknya berkonsultasilah dengan dokter Anda.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar